Tampilkan postingan dengan label Arsip. Tampilkan semua postingan

Matinya Seorang Tuan Tanah


(image from: pinterest.com)
Sudjono menutup rapat akbar itu dengan pekik “Hidup tani!” sebanyak tiga kali. Pada setiap jeda dan di akhir pekik Sudjono, ratusan petani desa Margosari yang menghadiri rapat di tengah lapangan itu menjawab sambil mengangkat tinju kiri dengan teriakan yang sama. Petani-petani itu adalah buruh tani anggota Barisan Tani desa Margosari.

Rapat akbar itu diorganisir oleh pengurus Barisan Tani desa Margosari. Sudjono ditunjuk oleh pengurus Barisan Tani desa Margosari untuk menjadi orator di rapat akbar sore itu. Rapat akbar itu sendiri adalah rangkaian kegiatan konsolidasi dan sosialisasi reforma agraria.
Tapi sebetulnya Sudjono bukanlah anggota Barisan Tani. Ia adalah anggota serikat buruh kereta api. Namun, karena desa tempat tinggalnya adalah basis Barisan Tani, ia sering terlibat pada kegiatan-kegiatan yang diadakan organisasi itu. Seperti pada sore ini, ia diminta menjadi orator rapat akbar. Tugas utama Sudjono adalah menyampaikan pokok-pokok Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA), dan membakar semangat anggota Barisan Tani dalam perjuangan reforma agraria. Pemahaman atas reforma agraria dan keahlian berpidato yang dimiliki Sudjono, memang seringkali jadi tumpuan utama Barisan Tani desa Margosari pada acara rapat dan diskusi.
***
Ahmad tidak henti-hentinya mengumpat ketika dua orang mata-mata suruhannya kelar menyampaikan laporan dan pamit pulang. Teriakan-teriakan itu seolah bisa didengar langsung oleh B: “Tanah untuk petani!”, “Laksanakan UUPA!”, “Hidup petani!” Padahal Ahmad hanya mendengar perihal itu dari laporan dua orang suruhannya tadi, dan laopran-laporan sebelumnya. Sekarang, walau hanya sayup-sayup, teriakan itu seolah makin nyata terdengar di telinganya.
Sebenarnya, ini bukan kali pertama Ahmad memata-matai kegiatan Barisan Tani di desa Margosari. Hampir setiap kegiatan Barisan Tani desa Margosari tidak luput dari pengawasan Ahmad. Ketika mata-mata suruhannya selesai menyampaikan laporan, Ahmad akan tak henti-hentinya mengumpat selama beberapa saat. Pada waktu-waktu seperti inilah istrinya akan selalu jadi sasaran murka Ahmad.

Seperti sore itu juga. Lastri, istri Ahmad, menerima luapan amarah Ahmad. Ketika Lastri mengantarkan secangkir kopi untuk suaminya yang tinggal duduk sendirian di beranda, ia justru dihujani murka. Ini adalah kenyataan pahit yang rutin ia terima tiap kali suaminya menghadapi setiap masalah. Apapun masalahnya.

“Dasar istri tak berguna! Mengurus anak saja tak becus. Percuma kau ku pelihara!” Kalimat itu selalu keluar dari mulut Ahmad apabila memarahi istrinya. Meskipun masalah yang Ahmad hadapi bukanlah urusan rumah tangga dengan istrinya, kalimat makian tersebut tetap selalu keluar dari mulut Ahmad.

Tapi Lastri adalah perempuan yang terdidik dengan budaya Jawa. Istri adalah pelayan suami, demikian satu-satunya ajaran yang Lastri terima dalam hidupnya. Sehingga membantah suami adalah sama sekali haram baginya, apalagi menggugatnya. Ibunya dulu mengajarkan, bila seorang istri ingin ada dijalan yang lurus (kebaikan) maka hanya suami yang mampu menuntunnya. Ajaran itu Lastri pegang hingga sekarang, saat dimana ia sedang ditumpahi murka suaminya.

Lastri kerap menangis ketika suami dan anaknya tidak ada dirumah. Memang hanya menangis saja yang Lastri mampu, itupun mesti menunggu suaminya keluar rumah terlebih dahulu. Tindakan-tindakan lain, selain menangis, tak pernah Lastri lakukan. Pernah sekali waktu terlintas dalam pikiran Lastri untuk meninggalkan rumahnya secara diam-diam, tapi pikiran itu segera hilang ketika ia mengingat ajaran ibunya. Selain itu, Lastri juga sangat menyayangi anaknya yang cuma satu-satunya.
Meski demikian, Ahmad tak pernah melakukan kekerasan fisik pada Lastri. Setidaknya sejak terakhir Ahmad melakukannya sekitar setahun yang lalu. Waktu itu, Ahmad dan Lastri ada di beranda rumah mereka, sama seperti tempat dimana mereka sekarang ada. Ahmad yang menjadi begitu marah ketika Lastri telat menyuguhkan kopi kepadanya, mendorong istrinya hingga terjatuh. Dua hari setelah kejadian itu, baru diketahui bahwa Lastri keguguran pada kehamilannya yang baru beberapa minggu. Kehamilan yang Lastri sendiri tidak mengetahuinya.

Padahal Ahmad ingin sekali memiliki anak lagi, apalagi anak perempuan. Keinginannya ini baru muncul ketika anak pertamanya yang laki-laki duduk di bangku kelas 3 Sekolah Menegah Atas (SMA). Menurut Ahmad, anak pertamanya tidak akan becus mengurus harta warisannya kelak. Terlebih usia Ahmad dan Lastri masih sangat memungkinkan untuk memiliki seorang bayi lagi. Mereka dulu menikah di usia yang sangat muda sekali.

Namun keinginan Ahmad itu sebenarnya tidak akan pernah terwujud. Dengan dibantu seorang dukun beranak dari kampung sebelah, Lastri telah mematikan kesuburannya untuk memiliki keturunan lagi. Itu Lastri lakukan dua bulan setelah ia mengalami keguguran, ketika suaminya pergi keluar kota untuk beberapa lama.

Jika Ahmad ingin sekali memiliki anak lagi, terutama anak perempuan. Lastri justru kebalikannya. Ia sangat takut dan tidak ingin memiliki anak lagi, apalagi anak perempuan. Terlebih setelah Lastri mengalami keguguran. ia terus-menerus didatangi seorang bayi dalam mimpi. Anehnya, bayi itu tidak menangis tidak juga tertawa, tidak menunjukan ekspresi apa-apa lebih tepatnya. Hanya senyap. Anehnya lagi, bayi itu hanya muncul 30 detik saja dalam setiap mimpi Lastri. Tak pernah lebih. Sejak pertama kali muncul, bayi itu telah muncul sebanyak 64 kali dalam mimpi Lastri sejauh ini.
Karena jenis kelamin tidak bisa ditentukan sebelum kehamilan, maka Lastri memilih untuk tidak akan pernah hamil lagi. Lastri cuma takut jika ia memiliki anak perempuan, nantinya akan memiliki nasib serupa dengannya ketika menjadi seorang istri. Seperti apa yang Lastri alami sore ini, juga sebelum-sebelumnya, di beranda rumahnya sendiri.
***
Bayu ada dibalik jendela yang menghubungkan ruang tamu dan beranda, ketika ibunya dimarahi oleh bapaknya sore itu.

Hampir selalu begitu. Bayu ada dibalik jendela tiap-tiap ibunya dimarahi bapaknya, pada sore atau malam hari. Pada pagi dan siang hari, Bayu ada disekolah. Kecuali hari minggu. Jadi Bayu tidak tahu apakah pada pagi dan siang hari ibunya pernah dimarahi juga oleh bapaknya. Yang ia tahu, ibunya sering dimarahi pada sore dan kadang malam hari, ketika bapaknya ada di beranda dan ibunya menyusul untuk mengantarkan kopi.

Bayu juga selalu mendengar dengan jelas setiap makian yang ditujukan kepadanya tiap kali ibunya dimarahi. Anak tidak berguna, tidak bisa membantu orang tua, percuma kuberi makan, tidak dewasa, tidak mampu mencari istri. Itulah makian yang ia pernah dengar keluar dari mulut bapaknya. Termasuk sore ini.

Melalui Lastri, Ahmad memang menuntut anak satu-satunya itu untuk cepat menikah. Ahmad memiliki keyakinan bila Bayu kelak tak akan mampu mengurus semua warisan yang akan ditinggalkannya. Karenanya, Ahmad berharap cucunya nanti yang akan merawat dan meneruskan segala warisannya nanti. Jika saja Bayu menikah dan segera memiliki anak saat ini, kelak ketika Ahmad meninggal, cucunya sudah cukup besar untuk mengurus segala harta peninggalannya. Tapi hingga sekarang ini, berpacaran pun Bayu belum pernah.

Walaupun tidak sekuat suaminya, Lastri juga sebenarnya memiliki keinginan agar Bayu segera menikah. Tapi alasan mereka berbeda. Lastri berharap dengan Bayu menikah, maka Bayu akan keluar dari rumah tempat mereka tinggal. Lastri tahu bahwa anaknya sudah sejak lama menderita dengan sikap bapaknya yang keras. Bahkan, tuduhan gagal mendidik anak yang ditujukan kepadanya, justru disebabkan oleh sikap keras Ahmad kepada istrinya itu. Bayu mungkin terganggu psikologisnya akibat itu.

Meski demikian, bukannya Bayu tidak ingin memiliki pasangan atau menikah. Sekalipun belum pernah berpacaran, ia memiliki keinginan yang kuat untuk menikah. Bayu sangat menyukai Mia, perempuan seusia yang pernah satu sekolah dengannya.

Bayu pertama kali mengenal Mia pada kelas 2 SMA. Waktu itu Bayu terjatuh dari sepedanya. Kakinya sedikit terluka karena menghantam batu di jalan. Mia yang kebetulan ada di dekatnya membantu membersihkan lukanya.

Sebelumnya, Bayu sudah mengetahui jika Mia tinggal satu desa dengannya. Ia juga tahu bahwa Mia adalah anak dari pak Sudjono, orang yang sering disebut-sebut namanya dalam laporan mata-mata suruhan bapaknya.

Namun, ia baru tahu saat itu bahwa Mia memiliki mata besar yang sangat indah. Bayu menyukainya. Sejak saat itu, ia selalu jatuh cinta setiap melihat Mia dan menatap kedua matanya. Bayu juga jatuh cinta pada ketulusan Mia dalam membantu orang lain, termasuk ketika ia dibantu membersihkan lukanya. Itulah alasan mengapa diam-diam ia sangat ingin menikahi Mia.
***
Hari ini tanggal 14 Oktober 1965. Balai Desa Margosari sejak pagi-pagi sekali telah habis dilalap api. Siang harinya, tiga toko milik pak haji yang dikontrakan di pinggir jalan utama juga terbakar, dan hanya menyisakan tembok dan genting yang menghitam. Sisanya ludes menjadi abu. Dua orang suruhan Ahmad telah menjalankan tugasnya dengan baik.

Sore harinya, sekitar empat puluh warga berkumpul didepan balai desa yang hangus terbakar pagi hari tadi. Dua orang yang berbadan tegap diantaranya bukan warga desa Margosari. Mereka berdua memperkenalkan diri sebagai utusan pemerintah dari Jakarta.

“Dua kebakaran yang terjadi hari ini adalah ulah orang-orang kiri. Kami berdua ditugaskan oleh pemerintah untuk memastikan orang-orang itu tidak membuat ulah lagi di desa ini.” Demikian salah seorang yang mengaku utusan pemerintah itu memberi pengumuman dimuka warga yang ada disana.
“Ganyang Barisan Tani!” Teriak Ahmad, yang segera disambut dengan teriakan yang sama oleh semua warga yang ada disitu.
“Ganyang Barisan Tani! Ganyang Barisan Tani! Ganyang Barisan Tani!”
***
Dengan berat hati, Mia menuruti perintah Bapak dan Ibunya untuk pergi dari rumah mereka sendiri. Ibunya berpesan agar ia terus saja berjalan ke utara. Menurut ibunya, jika menuruti perintahnya itu, maka Mia akan terhindar dari orang-orang yang berniat mencelakainya.

Akan tetapi, sebenarnya kedua orang tua Mia tidak pernah mengetahui ada dimana tempat yang mempu memberi perlindungan kepadanya itu. Mereka hanya tahu jika Mia terus berjalan sejauh-jauhnya dari desa ini, maka semakin sedikit orang yang mengenalnya. Dengan demikian, mereka berharap tidak ada lagi orang yang akan mencelakainya.

Informasi itu memang sudah menyebar beberapa saat lalu. Bahwa akan ada reaksi dari warga yang bukan anggota Barisan Tani atas dua kebakaran yang terjadi hari ini. Perangkat organisasi Barisan Tani belum sempat melakukan koordinasi. Mereka hanya sempat menyampaikan informasi mengenai akan adanya tindakan pembalasan.

Ternyata informasi yang sangat mendadak itu memang benar. Mia baru sampai pertigaan jalan, ketika rumahnya didatangi puluhan warga yang dipimpin Ahmad. Jika ia berjalan kearah timur, maka ia akan tiba di sekolahnya dahulu. Sementara, jalan kearah utara akan membawanya keluar dari desa Margosari. Mia berbelok ke timur. Ia berharap ada teman yang bisa ia jumpai disana, sehingga ia tidak sendiri dalam perjalanannya nanti.
“Mia!”
Mia mendengar suara laki-laki yang memanggilnya itu. Namun ia memilih untuk mengabaikannya.
“Mia. Tunggu sebentar.” Mia tak juga menghentikan langkahnya, dan membiarkan laki-laki yang memanggilnya itu terus ada dibelakangnya.
“Mia, saya ingin berterima kasih telah membersihkan luka saya waktu itu.”
Butuh waktu 30 detik untuk berpikir, sebelum Mia benar-benar menghentikan langkah dan membalikan badannya. Kini ia berada tepat dihadapan laki-laki yang belum sepenuhnya ia kenal. Mia hanya tahu ia bernama Bayu, dan bapaknya adalah orang terkaya di desanya yang memiliki banyak tanah. Mia berpikir, jika hanya untuk berterima kasih seseorang mesti mengejarnya hingga sejauh ini dan pada malam-malam begini, mungkin dia bukan orang yang jahat-jahat amat. Atau memang sama sekali bukan orang jahat.
“Bayu. Untuk apa berterima kasih pada hal yang sudah lama berlalu?”
“Karena mungkin baru sekarang aku bisa membalas bantuanmu waktu itu.”
“Bantuan?”
“Iya. Sekelompok warga sedang mencari anggota dan keluarga Barisan Tani, termasuk kamu Mia. Mereka punya rencana yang buruk kepada kalian.”
“Rencana…” Belum selesai Mia mengucapkan kalimatnya, ia melihat cahaya api dilangit kejauhan, tepat dari arah desanya.
“Ikutlah denganku, aku mohon. Aku akan membawamu ke tempat yang aman.”
Cahaya api dikejauhan itu ternyata juga membakar habis keteguhan hati Mia. Kini ia merasa benar-benar sendiri. Keluarga dan teman-temannya sementara tiba-tiba hilang dari benaknya. Satu-satunya orang yang bisa ia minta bantuannya hanya Bayu saat ini.
Mia tak menjawab permintaan Bayu. Tapi kini ada tepat dibelakang Bayu, dan mengikuti kemana setiap langkah kakinya.
Barangkali tindakan Bayu memang terlampau buru-buru. Tak cukup persiapan untuk melakukan ini-itu. Bahkan tempat yang aman yang ia maksudkan, belum sempat terpikirkan. Belum tahu dimana. Semantara, Bayu bukanlah orang yang banyak tahu tentang tempat-tempat di desanya, apalagi diluar desanya. Satu-satunya tempat aman yang ia tahu adalah rumahnya sendiri.
“Kamu bisa bersembunyi di rumahku. Mereka tak mungkin mencari-cari Barisan Tani di rumahku. Bukankah begitu?”
Mia lagi-lagi tak menjawab. Ia terus saja melangkah, mengikuti kemana langkah laki-laki yang kini ada didepannya.
***
Mereka berdua masuk melalui pintu belakang, yang memang sudah dibuka sebelumnya oleh Bayu. Tidak ada orang yang tahu ketika mereka masuk, termasuk ibunya. Mia diminta bersembunyi didalam kamar sampai Bayu kembali. Sementara itu, ia mencari ibunya.
“Ibu, kemarin malam aku bermimpi didatangi seorang bayi. Ia hanya diam saja. Tapi, kemudian aku berubah menjadi bayi itu.” Bayu membuka pembicaraan.
“Mimpi yang aneh.” Ibunya menimpali.
“Ibu, aku ingin menikah besok.”
Ibunya yang sempat kaget, kemudian berbalik tersenyum. “Jangan pernah bercanda soal pernikahan. Nanti kau kualat nak!”
Bayu tak menjawab. Ia menarik tangan ibunya, lalu menuntun ke arah kamarnya. Sementara itu, Bayu semakin yakin bahwa hanya dengan cara menikah dengan Mia, maka ia dapat melindunginya. Melindungi istrinya sendiri.
***
Semalaman mereka berdua tidak tidur. Mereka terus berjaga-jaga, kalau-kalau ada yang tahu jika Mia bersembunyi disini, lalu menciduknya. Tapi itu tak terjadi hingga pagi.

Pukul 04:00, Ahmad pulang bersama empat orang anak buahnya, mereka nampak begitu bahagia. Dari cerita mereka yang terdengar hingga kamar Bayu, diketahui bahwa mereka baru saja menumpas puluhan anggota Barisan Tani. Ada yang dibunuh langsung, ada yang dikumpulkan di balai desa. Dari ceritanya juga diketahui bahwa Sudjono, orang tua Mia, juga telah dibunuh dengan cara dibakar bersamaan dengan rumahnya. Sebelumnya, Sudjono diikat dengan tali pada sebuah tiang di ruang tengah dengan mulut tersumpal kain, kemudian rumahnya dibakar hingga menyisakan tembok dan genting yang legam. Sementara itu, istrinya dibunuh dalam perjalanan menuju balai desa, lalu mayatnya dibuang di kali dari atas jembatan.

Sekarang Bayu sedang duduk di beranda rumahnya menunggu penghulu, yang pagi tadi ia temui dengan tergesa-gesa. Awalnya penghulu itu menolak untuk menikahkannya, dan minta waktunya diundur menjadi lusa. Setelah menjanjikan bayaran tiga kali lebih besar dari yang biasa ia terima, akhirnya penghulu itu bersedia datang pada sore hari.
“Dimana perempuan sialan itu!”
Bayu sempat terkejut, namun tetap tak menjawab. Bapaknya tiba-tiba pulang. Padahal siang tadi, bersama puluhan warga, ia pergi ke perbatasan desa untuk menyisir sisa-sisa anggota dan keluarga Barisan Tani.
“Dimana kau menyembunyikannya?”
Bayu tetap tak menjawab. Rupanya ada seorang warga yang memberi tahu kepada bapaknya, bahwa tadi malam Bayu dan Mia terlihat berjalan bersama.
Saat bapaknya hendak masuk ke dalam rumah, Bayu bangkit dari tempat duduknya. Bayu mendorong bapaknya cukup keras hingga terjatuh, dan kepala bagian belakangnya bocor setelah menghantam tiang kayu. Darah mengucur deras membasahi sebagian rambut dan kepalanya. Kira-kira sepuluh detik kemudian, bapaknya menghembuskan nafas terakhir. Ahmad meninggal.
“Jika dalam satu malam kau bisa membunuh 20 nyawa, maka dengan membunuhmu aku menyelamatkan 200 nyawa dalam 10 hari,” pikir Bayu.
Lastri yang mendengarkan suara suaminya dari balik jendela, tak sempat keluar hingga saat suaminya meninggal. Lastri sempat ingin menangis. Namun itu buru-buru batal, ketika ia ingat cerita Bayu tentang mimpinya kemarin.
“Seorang bayi tak berdosa pun ingin membunuhmu.”

*ditulis oleh Roma Bin Pii

Menegaskan ‘Seni Untuk Rakyat’


(image from: https://bumirakyat.files.wordpress.com/2013/01/kumpulan-ilustrasi-lekra-di-harian-rakyat.jpg?w=640&h=392&crop=)

Tak banyak yang tahu mengenai buku penting ini. Padahal, buku ini berusaha memberi jawaban atas salah satu polemik tua dalam sejarah umat manusia: hubungan seni dan politik. Perdebatan soal ini telah membelah para seniman dan pendukungnya dalam dua kubu besar: ‘Seni untuk Seni’ versus “Seni untuk Rakyat”.

Adalah Basuki Resobowo (BR), seorang pelukis besar Indonesia, yang berusaha menjawab perdebatan itu dalam bukunya, “Bercermin Di Muka Kaca: Seniman, Seni, dan Masyarakat”. Diterbitkan oleh penerbit Ombak, pada tahun 2005, buku itu kurang tersebar luas dan diketahui banyak orang.

Memang sejak BR berusaha memenuhi niatnya menulis. Akan tetapi, beberapa kali niatan itu kandas di tengah jalan. Namun, tiba-tiba sebuah kejadian memaksanya harus menulis dan menjelaskan posisi. Adalah pernyataan Sudjojono, bekas kawan seperjuangannya, yang membuat BR sangat ‘terprovokasi” menulis. Sudjojono bilang, “melukis dan politik adalah dua hal yang berlainan.”

bercermin-di-muka-kaca
Judul buku: Bercermin Di Muka Kaca: Seniman, Seni dan Masyarakat Penulis: Basuki Resobowo Penerbit: Ombak Cetakan: April 2005 Tebal: xxii + 139 halaman ISBN: 979-3472-18-9
Bagi BR, kata-kata Sudjojono itu ibarat “petir di siang hari”. “Setelah membaca kata-kata Sudjojono saya menjadi kaget. Ia pisahkan seni dari politik atau seni dari revolusi,” kata BR (hal. 11).

BR berusaha mengingat-ingat masa lalu, tepatnya tahun 1938, ketika Sudjojono dan sejumlah pelukis progressif mendirikan organisasi bernama Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi). Saat itu, dalam kenangan BR, Sudjojono termasuk pencetus seni-rupa modern.

Menurut Sudjojono, sebagai seorang seniman—sekaligus sebagai manusia Indonesia—karya seni haruslah bercorak Indonesia. Agar bisa bercorak Indonesia, maka seniman tidak boleh hidup terpisah dari kehidupan rakyat. Sebab, keadaan rakyat-lah yang merupakan keadaan sesungguhnya. Karya seni pun haruslah bertolak pada keadaan rakyat itu. Inilah dasar realisme!

Pemikiran Sudjojono tertancap kuat pada BR. BR masih mengingat pesan Sudjojono pada dirinya: “Bas, memang benar apa yang mereka (baca: pelarian Indonesia di Singapura) bilang. Apalagi kita sebagai seniman jangan sampai absen dan tidak ikut mengalami situasi politik yang penting dari sejarah bangsa Indonesia. Lingkungan dan masa memainkan peranan dalam terjadinya suatu karya seni, sekalipun bukan sebagai komponen yang menentukan.” (Hal. 16).

BR adalah seorang marxis-tulen. Tak heran, cara pandangnya tentang seni pun sangat dipengaruhi marxisme. Di sadar, cita-cita kesenian haruslah dianggap sebagai upaya membawa seni kepada paham estetika baru, yaitu melenyapkan selera borjuis yang dekaden dan menghidupkan seni yang mengisi dan memperkaya unsur kerohanian pada golongan lebih luas pada masyarakat, yaitu massa rakyat. Inilah aliran “Seni untuk Rakyat” (Hal. 22).

Gerakan “Seni untuk Rakyat” makin menguat tatkala Sudjojono bersama seniman-seniman progressif lainnya mendirikan Seniman Indonesia Muda (SIM) pada tahun 1946. Organisasi ini, seperti diakui BR, adalah embrio dari organisasi kesenian terbesar di tahun 1960-an: Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra).

Haluan “seni untuk Rakyat”, yang sudah menjiwai SIM, kemudian dikembangkan oleh Lekra menjadi gerakan “1-5-1”: politik sebagai panglima, meluas dan meninggi, tinggi mutu ideologi dan artistik, tradisi baik dan kekinian revolusioner, kreativitas individual dan kreativitas massa, realisme sosial dan romantik revolusioner, dan turun ke bawah (turba).

Lukisan Telanjang

Di buku kecil yang hanya 139 halaman ini, BR juga berusaha menulis secerca kisah perjalanan hidupnya. Lalu, Hersri Setiawan, aktivis Lekra yang memberi prakata di buku ini, berusaha meringkasnya lagi dalam artikel penutup berjudul “Sosok Basuki Resobowo”.

Ia bercerita tentang lukisannya yang bergambar “wanita telanjang”. Basuki menuturkan, pada saat pameran lukisan pelukis SIM di Madiun, tahun 1947, lukisan tersebut diikutsertakan. Baru dua hari dipamerkan, lukisan itu sudah hilang. Rupanya, ada kelompok yang tak senang dengan lukisan itu. Dianggap merusak akhlak!

Chairil Anwar, yang sempat melihat lukisan itu, mengaku terkesima. Penyair terkemuka Indonesia sampai berdiri 10 menit di depan lukisan itu. Bahkan ia menyempatkan waktu untuk membuat puisi tentang lukisan itu: Surga. “Hebat kau, Bas, semua yang kau ceritakan ada di lukisan itu,” kata Chairil kepada BR.

Bagi BR, lukisan telanjang itu merupakan bentuk “pendobrakan” terhadap kebudayaan Indonesia yang dekaden. Namun, ia mengatakan, lukisan telanjangnya berbeda dengan lukisan telanjang-nya Affandi. “Citranya bukan mendobrak budaya yang dekaden, melainkan media komunikasi high society di masyarakat eropa dan juga Indonesia,” kata Basuki (Hal. 52).

Tetap Teguh!

Dalam buku itu, BR juga seakan menegaskan sikap politiknya tak pernah luntur: seorang marxis. Kendati, ia menerima pahit-ketir akibat pilihan politiknya itu dan membuatnya menjadi “imigran politik” di Eropa.

Bahkan, ketika kawan seperjuangannya, Sudjojono, seakan berpindah-haluan, Basuki tetap memeluk erat keyakinan politiknya itu. Padahal, ia terkadang menyaksikan kisah pahit para imigran politik di luar negeri: frustasi, pertikaian, hingga perpecahan.

Perjuangan memang tak mengenal kata akhir. Begitulah, pada tahun 1990-an, BR masih terlibat dalam aksi politik menentang eksekusi 6 tapol PKI (Ruslan Wijayasastra dkk) di Indonesia dan berbagai aksi mendukung perjuangan anti-kediktatoran orde baru di tanah-airnya.

Basuki dilahirkan di Baturaja, Palembang, Sumatera Selatan. Sebagai anak asuh seorang paman yang berpangkat Wedana-polisi, Basuki bisa mengenyam pendidikan di ELS (sekolah rendah anak-anak eropa). Pada tahun 1930-an, ia sempat ke jogja dan bersekolah di Taman Siswa.

Tahun 1930-an itu, ia mulai mengenal dan berkenalan dengan Sudjojono. Sejak itu pula Basuki bertransformasi menjadi pelukis revolusioner. Menjelang pembacaan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, Basuki menggelar aksi mural untuk mengabarkan Proklamasi 17 Agustus 1945 ke khalayak luas.

Ia terilhami oleh pelukis kiri Meksiko, Diego Rivera, yang membuat propaganda melalui mural di tembok-tembok. BR pun melakukannya pada trem dan kereta api ekspres Jakarta-Surabaya. Dengan demikian, sebelum proklamasi dibacakan oleh Bung Karno, sebagian rakyat sudah tahu bahwa Indonesia sudah MERDEKA.

Rudi Hartono, pimred berdikarionline.com

*diambil dari http://www.berdikarionline.com/memahami-seni-untuk-rakyat/

Degup iang Hidup Edisi 1





"Degup iang Hidup" edisi 1. Dari Divisi Sastra Komunitas Kata Bicara.

Kreativitas




Pada tahun 1967, seorang kritikus seni rupa dan sastra bernama Sir Herbert Read menerbitkan sebuah buku, (Horizon Press, New York), yaitu Puisi dan Pengalaman. Dalam buku ini dia mengatakan, bahwa kreativitas bukan kerja mudah. Dengan contoh-contoh yang banyak dan mantap dia berusaha menunjukkan, bahwa tidak sembarang orang dapat berkreasi, dan tidak semua orang yang dapat berkreasi dapat selamanya berkreasi. Bagi orang-orang jempolan pun, kreasi merupakan perjuangan yang mahaberat dan mahahebat. Selanjutnya dia menganjurkan kepada para seniman muda hendaknya mereka tidak gegabah. Dalam pandangan Herbert Read, banyak seniman muda dilanda oleh suatu penyakit, yaitu penyakit ingin menjadi seniman terkemuka, akan tetapi modalnya hanya dengkul.

Marilah kita melupakan Sir Herbert Read sejenak. Sekarang kita menengok ke buku lain, The Renaissance, yang diterbitkan pada tahun 1873 oleh seorang kritikus seni rupa dan sastra bernama Horatio Walter Pater. Buku ini mengenai jiwa dan semangat Renaissance. Salah satu bagian buku ini yang penting adalah pembicaraan mengenai pelukis Leonardo da Vinci. Karya-karya pelukis ini bermutu tinggi dan abadi. Lukisan-lukisannya, seperti misalnya "Medusa", "La Fanoriere", "Mona Lisa", dan lain-lain, menunjukkan betapa besar kemampuan kreativitas pelukis ini.

Mungkin kita akan terkejut kalau kita mengetahui bahwa meskipun Leonardo da Vinci seorang pelukis, hampir dalam seluruh perjalanan hidupnya dia tidak pernah bersikap sebagai pelukis. Pada waktu kecil dia suka berjalan-jalan seolah-seolah tanpa tujuan di kota kelahirannya, yaitu Florence, sering membeli burung dalam sangkar dan kemudian melepaskannya, mengenakan pakaian norak, naik kuda binal, memainkan instrumen musik yang dibuatnya sendiri, dan sebagainya.

Menjelang dewasa, dia suka mencampur-campur cat tanpa tujuan untuk melukis. Kemudia dia suka memperhatikan gejala-gejala alam. Dia tahu mengapa sebagian bulan tidak bercahaya terang, dia tahu gerak-gerik air laut di daerah khatulistiwa, dia juga tahu bahwa gunung-gunung yang banyak karangnya dahulu kala pernah menjadi bagian laut. Pada waktu itu, yaitu abad kelima belas, dia sudah dapat meramalkan bahwa pada suatu saat kelak manusia akan dapat terbang, atau menciptakan alat untuk terbang. Pada waktu itu belum ada satu orang pun yang mempunyai pikiran sejauh itu kecuali dia, dan kecuali para tokoh dalam dunia mitologi.

Pada hari tuanya dia banyak bergaul dengan para ahli ilmu pengetahuan, seperti misalnya ahli matematika, ahli anatomi, dan lain-lain. Sikap dan gaya hidupnya bukan sebagai seniman, akan tetapi sebagai ahli ilmu pengetahuan. Dan memang dia banyak menulis buku mengenai ilmu pengetahuan, yang notabene juga banyak mempunyai pengaruh terhadap pengembangan ilmu pengetahuan.

Bagi Leonardo da Vinci, saat-saat kreativitas itu sendiri tidak begitu perlu. Yang lebih perlu baginya adalah proses yang dapat melahirkan kreativitas. Proses ini panjang. Dalam proses ini dia tidak diam, atau hidup tidak keruan serta eksentrik, akan tetapi bekerja keras. Dia bekerja keras bukan untuk melukis itu sendiri, akan tetapi menjadi seorang intelektual, yang selalu ingin tahu, selalu ingin menambah ketajaman pandangannya, dan selalu ingin menambah ketajaman otaknya. Andai kata dia hanya melukis saja, mungkin dia tidak akan menjadi apa-apa. Baginya, belajar adalah lebih penting dari melukis itu sendiri, sedangkan melukis itu sendiri baginya relatif mudah.

Baru-baru ini, dalam perjalanan saya ke Sumatra bersama Sapardi Djoko Damono, saya diundang untuk omong-omong oleh Mursal Esten, Kepala Taman Budaya Padang. Dalam kesempatan itu pengarang Chairul Harun bertanya, apakah seorang seniman sebaiknya seorang peneliti. Saya menjawab, memang demikian. Akan tetapi lebih dari itu, jawab saya, seorang seniman yang baik mempunyai sikap akan hidup intelektual, yaitu selalu mencari, selalu mengkaji, dan hidup dengan baik. Sikap hidup yang demikian inilah yang menunjang kreativitas. Dan tentu saja pengertian "penelitian" di sini bukannya dalam arti yang formal, yang mempergunakan berbagai matriks, tanda-tanda panah, gambar-gambar bulatan, permainan statistik, serta hal-hal semacam itu seperti yang lazimnya dilakukan oleh orang-orang ilmiah, pura-pura ilmiah, atau sok ilmiah.

Pertanyaan Chairul Harun mengingatkan saya pada beberapa cerpen yang baru-baru ini saya baca. Cerpen-cerpen tersebut diikutkan dalam beberapa lokakarya penulisan cerpen, sayembara menulis cerpen, dan lain-lain. Ada juga beberapa di antaranya yang dimuat dalam berbagai media. Semua cerpen tersebut ditulis oleh penulis-penulis muda.

Rupanya, para penulis cerpen tersebut sadar, bahwa kreativitas bukanlah kerja merenung tanpa menghasilkan apa-apa, akan tetapi kerja keras untuk menghasilkan sesuatu. Rupanya mereka juga yakin, bahwa untuk dapat berkreasi orang tidak perlu hidup seenaknya. Karena itulah mereka menertawakan seniman yang kerjanya hanya menjadi parasit, luntang-lanting, dan omong besar, dengan karya yang notabene juga nol besar.

Sumber:

Tulisan ini diambil dari  "Kreativitas" di buku Solilokui Kumpulan Esei Sastra, Budi Darma, hal 18-20.

Danarto


(image from pinterest.com)

Berdasarkan pengakuannya sebagai sastrawan, Danarto tergolong lamban dan sangat tidak produktif. Dalam kurun waktu 12 tahun (1975-1987) hanya muncul tiga buku kumpulan cerpen, yaitu Godlob (1975), Adam Ma’rifat (1982), dan Berhala (1987). Hal ini bisa dimaklumi, sebab selain Danarto menggeluti dunia sastra, ia juga mengakrabi dunia seni lain, yakni seni leukis. Baginya, menulis dan melukis berjalan bersamaan. Sebuah pengakuan jujur.
Sebuah cerpen yang baik –setidak-tidaknya menurut persepsi saya—bukanlah produk mentah yang menghidangkan sajian-sajian vulgar, tetapi butuh proses renungan dan pengendapan setelah melalui pergulatan visi, filosofi, dan latar sosio-kultural yang menggelisahkan mata batin pengarang. Bagaimanapun juga sebuah cerpen tak pernah tercipta dalam kekosongan. Artinya, cerpen akan selalu diwarnai oleh worldview (pandangan dunia) dan pretensi pengarang dalam menangkap fenomena-fenomena sosiokultural yang menggelisahkannya. Beranjak dari sisi ini kejujuran Danarto tersebut justru harus dimaknai sebagai tuntutan komitmen seorang sastrawan yang mau tidak mau harus memiliki doktrin moral-force dan jangan dipersepsikan sebagai kreator yang kekeringan objek imajinatif, impresif, dan cuatan ekspresi.

Seorang Pembaharu
Dalam salah satu esainya, Korrie Layun Rampan pernah mengatakan, Danarto adalah seorang pembaharu dalam khasanah sastra Indonesia. Seorang pembaharu yang sadar, bukan kerena eksperimentasi yang mentah dan konyol. (via Eneste, 1983:146). Aset Danarto sebagai pembaharu bukanlah sebuah slogan. Cerpen-cerpennya menunjukkan kebaruan unik yang berbeda dnegan cerpen-cerpen yang pernah ada. Kebaruan tersebut dapat dilihat dari aspek penyajian dan aspek muatan dalam cerpen-cerpennya. Dari aspek penyajian tampak corak penampilan unsur-unsur puisi, musik dan seni lukis, sehingga mampu memberikan efek puitis, musikal, dan artistik-dekoratif, sampai-sampai pembunuhan yang tragis menjadi begitu indah, ceceran darah menjadi adonan yang begitu manis. Dari aspek muatan. Tampak adanya tendensi moral pantheisme, yakni ajaran yang meyakini doktrin segala-galanya merupakan penjelmaan Tuhan (Rayani Sriwidodo, 1983:147-150). Fenomena-fenomena semacam inilah yang menggiring kita untuk sependapat dengan ucapan Korrie Layun Rampan.

Predikat sebagai pembaharu agaknya juga disepakati oleh Umar Kayam yang menyatakan bahwa di Indonesia belum ada seorang penulis cerpen yang dengan sangat sadar menciptakan dunia laternatif dalam cerita-ceritanya, kecuali Danarto. Dua kumpulan cerpen jelas menunjukkan adanya dunai alternatif yang dengan senantiasa mengajak pembaca untuk memasuki sebuah dunia yang bukan milik orang awam. Pembaca dihadapkan pada sbeuah misteri yang tak pernah tuntas, teror, kebrutalan, dan sekian perbuatan superior yang tidak kepalang tanggung. Cerpen Danarto hanyalah memberikan arah saja seperti yang dikatakan Iwan Simatupang (via Eneste, 1983:346) bahwa pengarang cerpen hanyalah memberi arah saja. Danarto lewat cerpen-cerpennya memberikan prelogika yang harus dilogikakan sendiri oleh pembaca sehingga mampu mengundang berbagai alternatif interpretasi. Cerpen yang mengandung kekuatan teror mental yang mahadahsyat.

Pada kumpulan cerpen terbarunya, Berhala, Danarto mencuat dengan gebrakan baru. Saya katakan demikian, sebab persepsinya terdahulu nyaris ditinggalkannya. Dunia alternatif –yang menjadi karakteristik pada kumpulan cerpennya terdahulu- bergeser ke dunia realitas yang manusiawi. Danarto tak lagi berbicara tentang dunia sonya-ruri yang penuh ambigu—meski tidak semuanya—tetapi lebih gelisah pada masalah-masalah sosial yang menghinggapi manusia-manusia metropolis. Keterlibatan tokoh “saya” nyaris menjadi ajang pembredelan borok-borok manusia metropolis. Danarto menjadi peka terhadap problem-problem sosial manusia kapitalis yang cenderung mekanis dan memola manusia untuk menghamba pada kepuasan hedonis. Barangkali Danarto telah punya pandangan lain tentang sastra yang tidak harus melulu mengabdi pada kepentingan susastra, tretapi bisa dijadikan sebagai medium untuk mencuatkan obsesi kegelisahan terhadap kenyataan sosial yang korup. Apakah ini pertanda terbuktinya konsepsi Satyagraha Hurip tentang Sastra Terlibat di mana sastra harus turut memperbaiki moral bangsa?

Doktrin Sufi
Walaupun cerpen Danarto berbicara masalah sosial, agaknya tradisi yang khas yang tak mungkin bisa ditinggalkannya, takni suasana absurditas. Bukanlah Danarto kalau tidak memasukkan suasana absurd dalam cerpen-cerpennya.

Sebagai seorang Jawa Isalam yang taat dan dibesarkan di lingkunagn budaya Jawa Tengah (Sragen, Solo, dan Yogya), Danarto terpelanting pada dunia tassawuf, dunia kaum sufi yang bersiteguh pada doktrin wahdat al-wujud (ketunggalan wujud atau ketunggalan kehadiran) di mana semua pernyataan keheidupan menemukan ke-Esa-annya kepada Sang pencipta (Umar Kayam, 1987). Hal ini sesuai dengan pernyataannya bahwa kita ini adalah milik Sang pencipta secara absolut dan ditentukan (Danarto, 1983). Oleh sebab itu, tidak terlalu mengherankan jika hampir semua cerpennya selalu dinapasi doktrin sufi yang begitu akrab bergelayut dalam perjalanan hidupnya.

Namun begitu, cerpen-cerpennya bukanlah cerpen vulgar yang hanya mengaplikasikan doktrin sufi secara mentah, tetapi melalui pencerapan yang diadopsikan dengan bias-bias realita yang berhasil ditangkap melalui syaraf intuitifnya. Tampaklah bahwa cerpennya bukan sekadar mengobral doktrin mentah seperti orang berkhotbah.

Rayani Sriwidodo pernah menyinyalir bahwa Danarto juga terpengaruh oleh bayangan absurditas yang dianut oleh kaum eksistensialis pemikir Barat yang berdasar pada keyakinan bahwa manusia berada dalam satu dunia irasional yang tanpa arti. Hanya bedanya, Danarto lebih mengandalkan intuisi daripada rasio. Tradisi berpikir sistematis belum menjadi miliknya. Sedangkan, kaum eksistensialis Barat bertolak dari rasio yang menuntunnya ke arah sistem filsafat atau setidaknya kecenderungan falsafi yang jelas penalran ilmiahnya. Namun, agaknya semua itu di-nonsens-kan oleh Danarto yang lebih meyakini adanya proses dalam lingkaran kreasinya.

Tak pelak lagi, doktrin sufi sebagai salah satu corak agamawi berhasil menggiring Danarto untuk menghasilkan karya sastra yang transenden. Kepekaan akan kesadaran religius yang diproses melalui tatapan mata batinnya yang sensitif dalam mencuatkan obsesi kegelisahannya. Doktrin The Merging of Servant and Master (Manunggaling Kawula-Gusti) yang merupakan pancaran wahdat al-wujud senantiasa menjadi titik sentral dengan penggarapannya yang fantastis dan teatral. Hal ini tampak sekali pada salah satu cerpennya “Anakmu Bukanlah Anakmu, ujar Gibran” di mana Niken hamil tanpa seorang lelaki pun yang menjamahnya, meski pada akhirnya Niken menikah dengan pemuda Tomo yang papa dan tak dikenalnya. Anehnya, pada pesta perkawinannya muncul Khalil Gibran –seorang tokoh sufi yang telah meninggal tahun 1931—datang memberikan kado. Atau, pada cerpen “Bulan Sepotong Semangka” (Kompas, 12 Juni 1988), tokoh Nari juga hamil tanpa seorang lelaki pun yang menyentuhnya. Tanpa sesal. Bahkan, Nari bagaikan seorang resi yang bertapa di kamar abadinya. Tanpa makan dan minum sampai akhirnya ia melahirkan, bahkan sampai anaknya, Bim, dewasa, kuliah di Fisipol di universitas kamar abadinya dengan dosesnnya Nari sendiri. Fantastis! Niken ataupu Nari rupanya dijadikan tumpuan Danarto untuk mencuatkan doktrin sufinya. Betapapun masalah yang digarap sederhana, Danarto tak mungkin bisa meninggalkan suasana absurd dalam cerpen-cerpennya yang fantastis dan teatral. Tradisi kreativitas yang telah mengikatnya erat-erat tak mungkin ditinggalkannya. Danarto telah punya tradisi kepenulisan yang khas.

Untuk memahami cerpen-cerpen Danarto secara otentik, paling tidak kita harus menelusuri doktrin sufinya yang liat dan kental dalam perjalanan hidupnya. Selain itu, kita harus meohoknya dari latar sosiokultural yang melingkupinya. Tanpa tohokan semacam itu kita hanya akan dihadapkan pada cerpen abstrak yang sulit untuk dimaknai. ***
Semarang, 1988

*Tulisan berjudul "Menguak Absurditas Cerpen Danarto" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (24 Juli 2007

diambil dari: http://sawali.info/2007/07/24/menguak-absurditas-cerpen-danarto/

Selamat Datang Anggota-Anggota Baru yang Memasuki Rimba Raya, Melawan Kabut, Menantang Badai



“Mari kita hadapi: hidup kita ini sengsara, penuh kerja keras, dan pendek.” -George Orwell



Setelah kemarin ada link form pendaftaran anggota yang kami bagikan, maka untuk kawan-kawan yang sudah berminat, tertarik, dan sudah pula mengisi, kami ucapkan selamat bergabung di Komunitas Kata Bicara ya! Selamat menjadi keluarga, selamat menjadi bagian dari proses yang tidak pernah berhenti. Semoga kita tidak sia-sia.

Untuk yang belum mendaftar dan berminat bergabung, silakan isi formnya saja lah ya.


Dari kata untuk kita bicara, dari kata untuk kita berkarya

Seni membumi, budaya menjiwa. Salam.

10.000 Jam Latihan (dan Mungkin Ketololan)

(image from: pinterest.com)


Oleh: Eka Kurniawan

Menurut penelitian Malcolm Gladwell (bukunya Outliers), dibutuhkan 10.000 jam latihan yang penuh dedikasi untuk menghasilkan orang sukses. Itu bisa dipelajari dari para pemain biola hebat, pemain skate, juga The Beatles dan Bill Gates. Melebihi bakat dan keberuntungan (ya, mungkin saja ada faktor ini meskipun kecil), latihan penuh dedikasi dan komitmen melakukannya dalam rentang waktu yang lama, memberi hasil yang jauh lebih nyata. Bagaimana dengan penulis? Saya rasa tak jauh berbeda. Dibutuhkan komitmen dan dedikasi untuk berlatih, dengan cara membaca dan menulis, selama itu. Ya, tak ada yang mudah, memang. Jika kita mendedikasikan waktu 3 jam sehari (secara konsisten, setiap hari) untuk membaca dan menulis, kurang-lebih kita membutuhkan waktu 10 tahun untuk “terlatih”. Artinya, jika berharap menjadi terlatih di umur 20 tahun, seorang anak harus terus berlatih, membaca dan menulis, setiap hari sejak umur 10 tahun! Jika komitmen ini baru dimulai umur 18 tahun, keahlian itu mungkin baru didapat umur 28 tahun. Jika hanya memiliki komitmen untuk membaca dan menulis sebanyak satu jam setiap hari (sekali lagi, setiap hari tak terputus), kita membutuhkan 30 tahun. Mulai umur 10 tahun, baru terlatih di umur 40 tahun. Berat. Memang berat. Di dunia ini, dari miliaran manusia, memang hanya sedikit yang muncul ke puncak. Karena memang hanya sedikit yang punya komitmen waktu seperti itu. Hanya sedikit yang memperoleh medali emas Olimpiade. Hanya sedikit yang menjadi juara dunia. Dan di antara jutaan penulis di dunia, tentu hanya segelintir yang karyanya terus dibaca, dari generasi ke generasi. Entah berapa banyak jam dihabiskan Shakespeare untuk menulis, membaca dan berada di gedung teater setiap hari. Jelas lebih banyak daripada kebanyakan kita. Tentu saja untuk mendaki puncak itu, tak melulu mengenai 10.000 jam. Anda bisa mengikuti riset Gladwell mengenai hal ini. Tapi yang paling menohok saya adalah salah satu hal penting ini: “Jangan habiskan waktu untuk hal-hal kecil”, yang tak berguna untuk karirmu, tak berguna banyak untuk bidangmu. Dalam skema 10.000 jam berlatih, waktu memang memegang peranan penting. Waktu sangat terbatas. Menghabiskan 3 jam sehari saja, kita butuh 10 tahun. Saya tak tahu persis apa “hal-hal kecil” dalam karir menjadi seorang penulis, kalaupun kita merumuskannya, barangkali banyak orang tak bersepakat dan berakhir dengan debat tak ada ujung (dan debat ini bisa jadi “hal-hal kecil” yang tak membawa kita menjadi penulis yang lebih terampil). Tapi saya rasa kita bisa mengukurnya sendiri: fokus terhadap tujuan keterampilan yang ingin dicapai, dan lewatkan apa yang tak mendukung itu. Bayangkan jika kita ingin berlatih menulis kalimat dengan baik, kita melakukannya berkali-kali, berjam-jam, dan lupakan urusan lain yang tak ada hubungannya. Setelah mampu melakukannya, kita lakukan kembali latihan menulis dialog, yang katakanlah, kita ingin di satu sisi tertulis dengan baku tapi terdengar alamiah. Banyak hal yang bisa kita latih dalam hal menulis, dan itu membutuhkan waktu yang sengaja disediakan. Dalam hal ini, memiliki tujuan yang jelas tentang apa yang sedang kita latih, menjadi sangat penting. Memikirkan hal ini, satu hal kemudian mengemuka: apa artinya “berhasil”? Dalam bidang penulisan, seperti apa itu penulis yang berhasil? Berpengaruh besar seperti Dostoyevski atau Kafka? Memperoleh hadiah Nobel seperti Hemingway atau Orhan Pamuk? Memperoleh uang banyak seperti J.K. Rowling? Tentu saja tak semua orang terobsesi untuk “berhasil” seperti gambaran Gladwell, dan karenanya tak perlu menyiksa diri berlatih 10.000 jam (dan terus berlatih setelah itu). Ada penulis yang cukup senang melihat karyanya dicetak, sebagai misal. Atau menyisipkan ungkapan cinta tersembunyi di dalam novel, banyak yang seperti ini. Kita punya ukuran masing-masing tentang “berhasil”. Yang ajaib tentu saja kalau orang berharap memperoleh sebutir kelereng, tapi ngamuk-ngamuk karena orang lain memperoleh segenggam berlian. Atau berharap mengarungi lautan luas, tapi usaha yang dilakukannya hanya merendam kaki ke dalam air di ember. Saya? Saya pengin melihat karya saya bersanding di rak buku dengan penulis-penulis kesayangan saya. Cita-cita saya tampak dangkal dan tolol, tapi sulit melakukannya. Setiap kali saya menyandingkan buku saya di samping buku-buku itu, saya merasa buku saya tak pantas berada di sana. Mungkin saya harus mencoba meletakkan buku saya di sisi buku-buku itu, terus-menerus selama 10.000 jam? Mungkin. Mungkin. Sebab saya yakin, 10.000 jam melakukan ketololan juga bisa berhasil membuat saya lebih tolol berkali lipat, dan sejujurnya, saya sering melakukan hal itu.


diambil dari http://ekakurniawan.com/journal/10-000-jam-latihan-8885.php

Kisah Gadis Kretek dan Lelaki Harimau



Wawancara dengan GEO Times | Sabtu, 14/02/2015
“Maaf, agak telat. Saya kira perjalanannya tidak akan semacet ini,” kata Ratih Kumala memulai perbincangan.
Ratih Kumala dan Eka Kurniawan adalah dua penulis yang belakangan ini namanya makin terkenal di dunia sastra Indonesia. Selain sebagai penulis, keduanya adalah pasangan suami istri.
Keduanya telah melahirkan beberapa novel, selain sempat juga menerbitkan kumpulan cerita pendek. Kedua penulis muda ini bertutur  pada The Geo Times tentang kecintaan mereka pada sastra.
Sebagai pemantik pembicaraan, mereka mengawali cerita tentang ide untuk tulisannya. “Ide tulisan? Kami rasa kami tidak pernah bertabrakan dan gak pernah sama juga,” kata Ratih. Eka menimpali bahwa selama ini mereka jarang memiliki ide yang sama. “Selain itu kami hanya saling cerita tentang tema tapi tidak pernah saling membantu dalam proses membuat tulisan,” tutur Eka.
Eka, kelahiran Tasikmalaya 40 tahun lalu ini menceritakan bahwa untuk ide sampai saat ini jarang ada bentrokan karena ketika di rumah mereka mengurangi pembicaraan mengenai sastra. “Di rumah, kami jarang ngomongin sastra,” kata Eka. Ratih menambahkan bahwa jika berbicara sastra yang ada justru berantem.
“Kalau ngomongin sastra di rumah yang ada malah ribut. Lebih baik ngurus anak aja kalau di rumah,” tambah Ratih yang Juni tahun ini genap berusia 35 tahun.
Baik Ratih maupun Eka menyepakati bahwa tema tulisan mereka selama ini memiliki perbedaan. Ini yang menyebabkan keduanya tidak pernah bertabrakan mengenai ide.
Sebagai seorang penulis, keduanya memiliki tingkat produktifitas yang cukup tinggi. Ratih sampai saat ini telah menerbitkan empat novel dan satu kumpulan cerita pendek.
Sedangkan Eka, selain menerbitkan tiga novel dan tiga kumpulan cerita pendek dia juga pernah menerbitkan satu buku non fiksi.
Ditanya mengenai karya terbaiknya, Ratih merasa bahwa karya yang paling baru yang dia anggap paling baik. “Buku yang paling baru itu artinya kualitasnya lebih bagus karena kita pernah belajar dari kekurangan buku yang lama,” terangnya.
Senada dengan Ratih, Eka pun menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban yang sama. Eka hanya menambahkan buku yang baru itu hadir sebagai perbaikan secara kualitas dari buku sebelumnya.
Beberapa karya Ratih antara lain Tabula Rasa yang terbit 2004, Genesis terbit 2004, Kronik Betawi terbit 2009, dan Gadis Kretek terbit 2012 serta kumpulan cerpen Larutan Senja terbit 2006. Diantara semua novelnya, Ratih selalu memunculkan sosok karakter perempuan kokoh.
“Sebenarnya tidak ada kesamaan di antara semua novel saya, hanya saja ada satu benang merah yakni perempuan tegar yang kuat,” ungkap Ratih. Mungkin terkesan Ratih penganut feminisme, tapi bagi Ratih itu hanya kebetulan.
Sama halnya dengan Ratih, novel karangan Eka tidak memiliki kesamaan secara cerita atau alur. Namun menurutnya jika pembaca lebih memahami karyanya akan ada satu benang merah. “Benang merah dari novel saya adalah semangat membalas dan trilogi dendam,” terang Eka.
Eka mengawali karya novelnya pada 2000 dengan terbitnya novel Cantik Itu Luka. Hingga akhirnya, dua tahun kemudian terbit novel Lelaki Harimau.
Butuh 10 tahun bagi Eka untuk menyelesaikan novel ketiganya Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas yang baru terbit 2014.
Lamanya rentang terbit dari novel kedua ke novel ketiga, bagi Eka disebabkan karena selama ini target yang dia pasang selalu kalah dengan skala prioritas yang dibuatnya sendiri. “Meski ada target untuk menyelesaikan karya dengan waktu yang cepat, saya kira tidak maksimal jika kualitasnya jelek,” ucap Eka.
Ratih, sang istri juga menilai bahwa Eka bukanlah sosok yang terburu-buru dengan karyanya. “Eka ini lebih sabar dengan karyanya. Saat menulis, Eka riset, baca, mengendapkan ide, baru menulis kembali,” terang Ratih. “Ini berbeda dengan saya yang selesai menulis langsung diterbitkan.”
Eka menambahkan bahwa selama menjadi penulis, baginya kualitas harus diutamakan daripada produktifitas. Alasannya pun sangat sederhana. “Di Indonesia, membuat novel tidak akan membuat penulis kaya raya,” kata Eka. Menurut Eka ini karena apresiasi terhadap karya sastra masih sangat kurang. Dia menyesalkan bahwa pemerintah belum memiliki perhatian terhadap karya sastra.
Seringnya novel yang diadaptasi untuk dijadikan film tidak serta-merta membuat kedua penulis ini berniat mengangkat karya-karyanya ke layar lebar. Kesibukan Ratih sebagai seorang editor naskah di salah satu stasiun televisi membuat dirinya mengetahui benar bagaimana proses pembuatan skenario.
“Tidak perlu setiap novel yang terkenal harus diangkat ke layar lebar,” kata Ratih. Dia menyesali bahwa seringkali ketika novel akan diangkat ke layar lebar akan ada banyak bagian dari novel yang dihilangkan. “Ini seperti buku tersebut dibedah, dicabik-cabik, dan hanya dipilih yang diperkirakan menarik bagi penonton. Ini tentu menyakitkan bagi penulis seperti saya,” katanya. Padahal proses kreatifitas selama penulisan novel itu tidak sebentar.
Begitu pula bagi Eka. Dia menganggap bahwa kesuksesan sebuah novel tidak bisa dipandang dari apakah sudah diangkat ke layar lebar atau belum. Baginya, daripada harus mengorbankan novel untuk diangkat ke layar lebar tapi tidak sesuai aslinya lebih baik tidak usah. “Atau kalau mau lebih baik saya membuat naskah untuk film dan jangan langsung dari novel,” ungkap Eka.
Eka menganggap bahwa kesuksesan novel bukan hanya dilihat dari apakah karya tersebut diangkat ke layar lebar atau telah mendapatkan penghargaan. “Kafka ataupun Borges tidak pernah mendapatkan hadiah nobel. Dan itu tidak menjelekkan karya mereka,” kata Eka mengandaikan permasalahan ini. Selama karya itu menyenangkan ketika dibaca, baginya itu adalah sebuah penghargaan yang luar biasa.
Untuk tahun ini, keduanya sedang menantikan karya terbaru mereka. Ratih Kumala, sesuai nama salah satunya novelnya si Gadis Kretek, akan menerbitkan kumpulan cerita pendek dengan judul Bastian dan Jamur Ajaib.
Begitu pula Eka Kurniawan, si Lelaki Harimau, akan menerbitkan kumpulan cerita pendek dengan judul Perempuan Patah Hati Yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi.
Meski memiliki banyak kesibukan di luar dunia menulis, baik Eka ataupun Ratih berharap agar mereka masih mampu berkarya.
Di tengah kesibukannya sebagai pengurus Dewan Kesenian Jakarta, Eka mengharap agar mampu lebih banyak memikirkan ide untuk tulisannya. Meski selama ini dia juga mengakui banyak ide yang muncul namun banyak juga yang gugur. “Namun sampai saat ini saya berharap akan lebih banyak novel yang saya tulis,” kata Eka. [*]

Situasi Chairil



(image from: google.com)


Oleh: Nirwan Dewanto

Puisi[1] yang unggul bukan hanya puisi yang minta dibaca ulang terus-menerus, namun juga yang mengubah cara kita membaca dan menulis. Demikianlah, Chairil Anwar bukan hanya nama seorang penyair, tapi juga nama untuk sebuah situasi, tepatnya kompleks kekaryaan yang memungkinkan kita menghidupkan bahasa dan sastra kita. Menempatkan ia sebagai hanya pembaharu-pendobrak memang layak dilakukan oleh sesiapa yang menggemari klise dan nostalgia. Sekadar pembaharu bagi saya adalah ia yang hanya hidup untuk zamannya sendiri: ia hanya melahirkan fashionbagi generasinya, yang cepat menjadi kedaluarsa; si pembaharu segera menjadi bagian masa lampau jika kita memandangnya dari arah zaman kita. Tidak demikian hanya dengan Chairil. Sajak-sajaknya menyediakan dasar bagi penulisan puisi sampai hari ini. Atau, dalam sajak-sajak Indonesia yang terbaik, kita selalu dapat menemukan jejak-jejaknya. Demikianlah, situasi Chairil Anwar adalah lingkupnya menegakkan sastra dan budaya tulisan.
Terlalu lama khalayak pembaca tenggelam dalam sejenis mitos bahwa Chairil Anwar adalah si binatang jalang yang terbuang dari kumpulannya, bahwa dengan kejalangan ia membangun sastra yang baru. Mitos demikian hanya akan menempatkan Chairil ke dalam kelisanan yang membuat kita malas menyelami karyanya. Terbalik dengan itu, selama 1942-1949 ia sungguh-sungguh mengerjakan budaya tulisan: melakukan studi terhadap para pendahulunya, membaca sastra dunia dan mengambilnya ke dalam dirinya, merumuskan konsep penciptaannya dengan terang,[2] dan akhirnya menulis (ya, bukan mengarang) sajak-sajak yang membayangi sastra kita hingga hari ini. Puisi Chairil membangkitkan kekayaan bahasa kita sampai ke tingkat yang mustahil dikatakan dengan cara lain, tetapi yang tetap sedap dan masuk-akal, sehingga para penyair yang kemudian seperti gementar di hadapannya dan akhirnya mau tak mau mengambilnya sebagai model atau sebagai lawan-tanding. Demikianlah Chairil Anwar menjadi semacam penyair-induk dalam bahasa kita. Saya tidak mengatakan bahwa puisinya sempurna. Dengan ketaksempurnaannya dalam beberapa segi, sajak-sajak Chairil tetap membayangkan potensi kebangkitan lebih lanjut: yakni bahwa untuk mencapai kepadatan dan kebulatan, puisi boleh “melanggar” tata bahasa. Cacat yang dihasilkannya adalah apa-apa yang mesti dipertimbangkan oleh para penyair yang datang kemudian.
Sudah barang tentu pelanggaran demikian hanya bisa dilakukan oleh ia yang gandrung benar akan bahasa; ia yang pandai memiuhkan hukum bahasa untuk menampilkan dunia secara lain; ia yang berpikir tentang bahasa. Seorang penyair modern pada dasarnya adalah perajin dan pemikir sekaligus: sebagai perajin ia selalu bermain dan bertarung dengan berbagai “teknik” yang disediakan para pendahulu yang sudah ia pilih berdasarkan aspirasinya; dan sebagai pemikir ia mencerna berbagai khazanah pustaka, yang memungkinkan ia melengkapkan dan mengoreksi sastra sebelumnya. Ia tidak meradang dan menerjang: ia percaya bahwa “pikiran berpengaruh besar pada hasil seni yang tingkatnya tinggi”; berkreasi baginya adalah “menimbang, memilih, mengupas”, bukan berimprovisasi, bukan “dipengaruhi hukum wahyu”, bukan “kerja setengah-setengah”.[3]Terhadang sejenis mitos bahwa Chairil Anwar adalah seorang pembaharu, khalayak pembaca kerap meletakkan ia sebagai pelawan tradisi. Bagi saya, tidak. Sebab jelaslah Chairil memperluas tradisi. Ia dengan cermat mencerna puisi lama, memilih model yang tepat untuk dirinya. Bahkan bagi sebagian penyair dan pengupas, sajak-sajaknya yang terbaik adalah yang berbentuk kuatrin, lebih sering kuatrin berima. Kita baca sajaknya berikut ini:

Senja di Pelabuhan Kecil
buat Sri Ajati
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu, tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut.
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.

Sajak di atas sepintas-lalu tampak seperti kuatrin konvensional dengan tiga bait berima a-a-b-b—c-c-d-d—e-f-e-f. Namun ternyata tidak. Dalam syair, misalnya, setiap larik adalah sebuah kalimat sempurna dengan empat-lima kata, sebuah unit ujaran atau perian yang lengkap. Dalam sajak Chairil tersebut, setiap larik adalah kalimat atau frase yang tak lengkap, menggantung, yang hanya secara “tanggung” berusaha menyambung dengan kalimat atau frase sesudahnya. Terdapat celah bisu-sunyi antar-frase, antar-kalimat, atau antar-larik. Tidak jelas, misalnya, apakah frase “tidak bergerak” pada ujung baris ketiga bait kedua dan “tiada lagi” pada awal bait ketiga mesti tersambung kepada frase sebelum ataukah sesudahnya. Chairil seakan membiarkan baris-barisnya mengerut dan memuai sendiri. “Cacat” semacam ini justru memunculkan tenaga kata dan kombinasi antar-kata. Perhatian kita akan terpusat pada bagaimana ia menghidupkan benda mati (misalnya “tanah dan air tidur”) atau mengkongkretkan yang abstrak (“desir hari lari berenang”). Tetapi perhatian kita mungkin juga bukan terpusat, melainkan bertebaran pada banyak gabungan kata yang mendebarkan, yang tak kunjung terpahami. Apa itu “pantai keempat” (kenapa tak ada pantai-pantai sebelumnya), dan apa pula “bujuk pangkal akanan” (apakah ini lambaian cakrawala, yang selalu menjauh bila dihampiri)?
Bagi saya, “Senja di Pelabuhan Kecil” tak pernah ditulis oleh sesiapa yang tak punya visi dan hormat terhadap bentuk syair atau pantun—juga kuatrin pada umumnya, bentuk yang sudah mantap di berbagai sastra dunia—termasuk bagaimana bentuk demikian diolah kembali oleh generasi sebelumnya. Lebih khusus lagi, Chairil meradikalkan bentuk syair yang sudah dibikin modern oleh Amir Hamzah, penyair Pujangga Baru yang karyanya pernah dikatakan Chairil sebagai “destruktif untuk bahasa lama, tapi sinar cemerlang untuk gerakan bahasa baru.”[4] Ia tahu bahwa kekuatan kata yang dicita-citakan Amir tidak akan muncul cemerlang jika si penyair bertahan pada kesempurnaan kalimat dan larik sajak. Bila kita tamsilkan dengan seni lukis: Amir masih menggambar pemandangan molek rupa di mana ruang masih tunggal-menerus, Chairil melukis ruang yang terpecah-pecah (seperti dalam pasca-impresionisme). Jika pada lukisan Amir kita terpaku akan keseluruhan tamasya, pada lukisan Chairil kita memperhatikan garis, warna, bidang. “Senja di Pelabuhan Kecil” adalah turunan terpiuh “Berdiri Aku” Amir Hamzah.[5] Demikianlah, saya hendak mengatakan bahwa untuk mengedepankan tenaga kata, Chairil justru menjadi penerus tradisi, bukan perusaknya.
Kesetiaan Chairil Anwar terhadap bentuk-bentuk puisi lama sesungguhnya lebih besar daripada yang kita duga. “Senja di Pelabuhan Kecil” juga memperluas konsep sampiran dan isi dalam pantun: bait pertama dan kedua adalah sampiran, dan bait ketiga adalah isi. Kedua bait sampiran tersebut adalah lanskap murni, yang seakan-akan dikatakan oleh orang ketiga. Tetapi sekonyong-konyong orang pertama, si aku, muncul pada bait ketiga, bukan untuk berseru, tapi bergumam lembut, menggarisbawahi apa yang dinyatakan kalimat pertama dalam sajak itu. Pola sampiran-isi ini muncul kembali dalam kuatrinnya yang lain “Derai-derai Cemara”[6]: bait pertama merupakan sampiran murni, bait ketiga isi, dan bait kedua setengah-sampiran, atau kait yang memperantarai kedua bait. Sementara itu, sajak ini juga tampak lebih setia kepada bentuk syair: setiap baris adalah kalimat lengkap, dan setiap kalimat berusaha bertahan dengan jumlah maksimum enam kata. Variasi lain dari perluasan kuatrin-syair adalah sajak “Yang Terampas dan Yang Putus”: tetapi di situ Chairil memisahkan baris keempat dari setiap bait menjadi bait-sebaris tersendiri.
Saya telah menekankan Chairil Anwar sebagai penerus tradisi persajakan sebelumnya. Minat sidang pembaca yang terlalu besar kepada sajak “Aku” atau “Semangat” misalnya, membuktikan bahwa mereka mungkin terlalu kerap menekankan peran penyair yang lahir di Medan pada tahun 1922 itu pada kemahirannya—mungkin juga pada kepeloporannya—menggarap sajak bebas. Di titik ini saya hendak menekankan bahwa sajak bebas pun sebuah konvensi, khususnya konvensi dalam khazanah puisi modern sedunia, dan dengan ini Chairil menyatukan dengan sastra dunia sezamannya.[7] Dengan kata lain, sajak bebas pun adalah hasil disiplin yang tersendiri. Pun dalam khazanah kita, Chairil bukan orang pertama yang mengerjakan sajak bebas; sejumlah penyair Pujangga Baru seperti Roestam Effendi, J.E. Tatengkeng dan Amir Hamzah pun sudah melakukannya. Demikianlah, dalam hal ini Chairil juga seorang pelanjut, bukan pelopor. Ia tentu menyadari kelemahan sajak bebas yang dikerjakan angkatan sebelumnya: “bebas” hanya sekadar tak terikat kepada bentuk-bentuk persajakan lama. Sajak bebas Chairil Anwar lagi-lagi adalah sarananya untuk menonjolkan tenaga kata. Dalam sajak bebas, berlangsung pemadatan radikal: bait bisa menjadi larik, bahkan larik pun masih bisa menyusut lagi menjadi kata. Dan fragmen-fragmen padatan demikian seakan terlepas sendiri, mengambang, bahkan saling bertabrakan, justru untuk menegaskan keseluruhan bangunan sajak. Kita baca:

Kawanku dan Aku[8]
kepada L.K. Bohang
Kami jalan sama. Sudah larut
Menembus kabut.
Hujan mengucur badan.
Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan.
Darahku mengental-pekat. Aku tumpat-pedat.
Siapa berkata?
Kawanku hanya rangka saja
Karena dera mengelucak tenaga.
Dia bertanya jam berapa!
Sudah larut sekali
Hingga hilang segala makna
Dan gerak tak punya arti
Sebagaimana terbukti oleh karya di atas, sajak bebas bukanlah sajak tanpa kendali. Bait kedua (yang hanya terdiri dari satu baris saja), sepintas dapat kita gabungkan dengan bait pertama untuk mendapatkan bentuk kuatrin, dengan rima a-a-b-b, namun ia memang harus berdiri sendiri untuk menegaskan unit lanskap yang tersendiri. Hal serupa bisa berlaku untuk bait keenam dan ketujuh. Chairil bukan hanya mengikat larik-lariknya dengan rima luar, yakni bunyi di ujung baris, namun juga rima dalam, yakni pengulangan bunyi vokal dan konsonan di dalam kalimat. Sajak bebas hanya bersifat bebas dalam arti bahwa ia menekankan baris-barisnya untuk berpisah dan menyatu ganti-berganti, mengambang, demi menekankan tenaga kata. Kata “berkakuan” pada bait kedua, misalnya, segera mendapat perhatian kita, karena ia berlaku untuk “kapal-kapal di pelabuhan”, suatu kombinasi yang tak lazim. Namun demikian, satuan-satuan sajak yang mengambang ini ternyata saling mendukung, membentuk sebuah lukisan suasana yang kuat. Rima luar dan rima dalam, dan pertalian imaji yang ketat (antara kapal-kapal yang berkakuan dan si kawan yang menjadi rangka, misalnya) tentu saja hanya terselenggara berkat disiplin. Dan inilah paradoks yang nikmat dalam berbagai sajak penyair yang wafat di Jakarta pada usia 27 tahun ini: kita asyik menjelahi rerinci, namun pada saat yang sama kita meresapkan keseluruhannya.
Malah tak jarang cukuplah kita puas (dan sekaligus terkejut selalu) dengan sebuah bagian atau sebuah frase saja dari Chairil Anwar, sementara bentuk sajak dalam keseluruhannya hanyalah wadah untuk menonjolkan evokasi yang sedikit itu. Pada sajak “Di Mesjid”, Tuhan bukanlah Dia yang didatangi, tetapi yang dipaksa datang dengan seruan, dan ruang ibadah menjadi ruang di mana si aku dan Tuhan “binasa-membinasa”, berperang. Antitesis-nya barangkali adalah puisi “Doa”, di mana si aku di depan Tuhannya menjadi “hilang bentuk” dan “remuk”. Dalam sajak “Hampa”, sepi bukan lagi hanya situasi, tetapi menjadi organisme, yang melalui pengulangan bertingkat menjadi kian besar, membuat pohonan lurus-kaku dan setan bertempik. (Bagi saya, “Hampa”, lagi-lagi, melanjut-tumbuhkan sajak “Sunyi Itu Duka”[9] Amir Hamzah.) Namun dalam mencipta gambaran yang baru, visi yang mengatasi nalar umum itu, si penyair menanggung risiko kegagalan—atau temuannya aus oleh waktu. Frase “aku ini binatang jalang” dari sajak “Aku” (atau “Semangat”) memang baris yang mudah diingat, tetapi jadi “lucu” dan remaja jika dibaca pada hari ini. Sementara itu, frase “hidup hanya menunda kekalahan” (dari sajak “Derai-derai Cemara”) hanyalah pernyataan semu-filsafat. Tentu saja, cacat demikian kita rasakan hanya jika kita memisahkan frase-frase bersangkutan dari bangunan sajak keseluruhan.
Sambil menyelami Chairil Anwar, kita juga mencurigainya. Segenap cacat yang barusan saya bicarakan, terkadang memang diperlukan untuk terciptanya sebuah lukisan, yakni lukisan suasana. Puisi modern bukan hanya memerlukan frase-frase mengambang dan celah bisu di antaranya, tapi juga derau, gangguan, di dalam frase itu sendiri. Ada sejumlah sajak Chairil yang tetap susah terpahamkan hingga hari ini tapi kita baca terus-menerus: karena di sanalah kita melihat lukisan. Jika narasi tersusun secara temporal—yakni kita baca berurutan dari awal hingga akhir—maka lukisan terbuat secara spasial—yakni kita tangkap sekaligus dalam keutuhannya. Sajak sebagai lukisan ternikmati karena ia mengandung tegangan antara yang spasial dan yang temporal. Sajak-sajak seperti “Catetan Th. 1946” dan “Kabar dari Laut,” misalnya, seperti mengandung larik-larik yang hendak berlari sendiri-sendiri, atau terasa canggung rancangannya. Namun derau dan “inkoherensi” semacam inilah yang menjadikan sajak-sajak itu lukisan modern, di mana kita beroleh pengalaman inderawi sambil terlucut dari arti. Sajak-sajak itu menjadi lukisan karena fragmen-fragmennya disatukan oleh matriks yang terbentuk oleh sunyi dan rima. Tidak jarang pula Chairil mengorbankan nahu dan morfologi demi mencapai kepadatan; lihat, misalnya, frase-frase seperti “kita jalan sama” (sajak “Kawanku dan Aku”) atau “hujan menebal jendela” (sajak “Dalam Kereta”).[10] Suatu upaya untuk mengambil kelisanan ke dalam puisi? Barangkali saja. Atau kegagapan Chairil menggumuli tulisan? Namun jelaslah semua cacat yang ditimbulkannya menjadi derau yang menyedapkan, yang menimbulkan rasa curiga yang mengikat kita dalam keseluruhan kerangka bentuk sajaknya.
Frase-frase idiosinkratik, yang seringkali berlebihan kadar itu, adalah risiko tak terelakkan dari seorang perajin-pencari seperti Chairil Anwar. Pandangan romantik mengalamatkan bahwa ekspresi demikian hanya bisa dicetuskan oleh penyair yang “berani hidup”[11]; bahwa Chairil menempuh kejalangan untuk mencapai kebaruan ungkapan. Saya menampik pandangan ini. Membaca puisi Chairil Anwar pada hari ini adalah memberi perhatian kepada keperajinannya, pada ketajamannya menggali bahasa, pada keluasan wawasan sastranya. Para penyair yang memberi tekanan pada kejalangan Chairil—dan mengira si aku dalam puisinya sebagai si penyair sendiri—terbukti hanya menjadi pengikutnya, mereka yang menghasilkan puisi gelap setelah ia. Sajak-sajak Chairil Anwar adalah puisi yang wajar, tetap wajar pun jika dibaca pada hari ini, sementara puisi yang berpretensi baru, “lain daripada yang lain”, menjadi sekadar puisi gelap—“puisi emosi semata-mata” dalam kata-kata Asrul Sani di tahun 1948[12]—yang sudah layu, milik masa lampau. Puisi—tepatnya, sebagian sajak—Chairil Anwar juga bukan hanya berterima, tetapi bisa menjadi model yang hidup hingga hari ini, meski model ini tersembunyi sekalipun di bawah permukaan puisi yang dipengaruhinya. Bagi saya, kuatrin-kuatrin Sapardi Djoko Damono dan Goenawan Mohamad berhutang kepada sajak-sajak Chairil seperti “Senja di Pelabuhan Kecil” dan “Derai-derai Cemara”. Model yang dibangkitkan Chairil bagi para penyair setelahnya pernah saya lukiskan sebagai berikut:

…Chairil Anwar memelihara hubungan antara kalimat-kalimat sumbang—ya, sumbang, jika diukur dengan cara prosa—dengan bentuk persajakan yang tertib, yaitu kuatrin. Seakan-akan bentuk yang sudah mantap dalam sejarah perpuisian dunia itulah—jangan lupa, Chairil juga menggunakan bentuk sonet—fragmen-fragmen kehidupan modern memunculkan diri kembali, kali ini secara lebih ajaib. Karena kata-kata memang belum selesai memancarkan keajaibannya, yaitu bahwa arti mereka yang dikandung oleh kamus barulah setahap kemungkinan arti belaka, dan ini hanya dimungkinkan jika si kata duduk dalam frase yang mengambang, bahkan seakan mengelak dari frase-frase sebelum dan sesudahnya. Namun sekali lagi, frase-frase ini tak bisa terlalu berlepasan, bagaimanapun mereka harus diikat oleh bentuk persajakan yang teratur, dengan rima yang terjaga. Atau, jika dikatakan dengan cara lain: bentuk-bentuk teratur-konvensional yang dipakai Chairil memang tidak pernah genap, selalu mengandung selisih: memang ada rima, tetapi larik-lariknya seakan mengerut di satu bagian dan merentang di bagian lain. Dan selalu ada derau di sana, yang mengganggu keindahan, ya, paling tidak mengusik tata bunyi dan tata rupa yang dicita-citakan kaum pujangga, keindahan yang mengandung “rasa yang dalam” dan “budi yang tinggi”. Derau itu muncul dalam wujud, misalnya, gabungan kata yang tak wajar, sepotong ide yang muncul tiba-tiba, atau kalimat yang berakhir sebelum waktunya. Kadang-kadang, bila kalimat-kalimat Chairil tampak lebih teratur, dan larik-lariknya terasa lebih genap… maka ternyatalah betapa licin sajak itu mengadopsi, sekaligus menyelewengkan, bentuk persajakan tradisional, yaitu pantun… dan betapa “isi”-nya yang semu-falsafi hanya topeng belaka bagi bentuknya.[13]

Penyair menghadapi tradisi yang ada di belakangnya; dan jika tradisi itu terlalu besar dan membebani, maka ia memilih sejumlah pendahulu belaka. Tetapi, seperti dikatakan Jorge Luis Borges, ia bukan hanya memilih, melainkan menciptakan para pendahulunya, dan dengan itu karyanya mengubah cara kita memandang masa lalu dan masa depan.[14]Demikianlah saya dalam tulisan ini mempersambungkan Amir Hamzah, Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono dan Goenawan Mohamad. Sapardi menegaskan bahwa sajak-sajak Chairil yang berhasil adalah yang kembali kepada bentuk klasik; tetapi buat saya, secara lebih gamblang lagi, Sapardi telah mengambil kuatrin-kuatrin Chairil yang jernih dan genap sebagai modelnya sendiri. Sementara itu, Goenawan, lebih menyerap kuatrin-kuatrin yang mengandung derau dan disharmoni, juga sajak-sajak bebas Chairil. “Nyanyi sunyi kedua,”[15] adalah penamaan Goenawan untuk Duka-Mu Abadi, buku puisi Sapardi yang terbit pada tahun 1969, dan dengan itu pula ia menandai kebangkitan kembali tradisi puisi lirik Amir Hamzah-Chairil Anwar.
Jejak-jejak Chairil juga tampak pada para penyair yang kelihatan tak terpengaruh olehnya, atau yang mengambil ia sebagai antitesis. Pantun-pantun baru Sitor Situmorang jelas melanjutkan jalan yang sudah ditempuh aneka kuatrin dan sonet Chairil Anwar, apalagi jika kita timbang bahwa Sitor juga gemar menggunakan katabenda abstrak dan penyataan semu-falsafi. W.S. Rendra menulis puisi naratif sebagai alternatif terhadap puisi Chairil dan para epigonnya, akan tetapi tampaklah bahwa sajak-sajak Rendra juga sering bergantung kepada frase-frase mengambang ala Chairil. Sutardji mengatakan puisinya kembali kepada mantra, tetapi Chairil Anwar sudah jauh lebih dulu menulis mantra modern seperti “Cerita Buat Dien Tamaela” (dan, tentu, sebelumnya, ada “Batu Belah” dari Amir Hamzah). Gerimis dan hujan dalam puisi Sapardi Djoko Damono, dan angin dalam puisi Goenawan Mohamad adalah metamorfosis dari kata-kata yang sama dari Chairil: itulah yang saya maksudkan bahwa penyair menghidupkan kata, memberi nafas baru pada kata melalui rancang-bangun puisinya; dan kata itu pun akan menggoda para penyair yang kemudian. Cara Chairil dalam menyatakan Tuhan, tentulah juga membangkitkan minat para penyair lain untuk melukis-Nya dengan cara yang belum pernah terbayangkan sebelumnya; kita baca, misalnya, “masih terdengar sampai di sini / duka-Mu abadi” (Sapardi)[16]; “Tuhan, kenapa kita bisa / bahagia?” (Goenawan)[17]; “maut menabung-Ku / segobang-segobang,” (Sutardji).[18]
Chairil Anwar bukanlah sebuah monumen, melainkan situasi, yakni situasi yang membuat kita, untuk menggunakan kata-katanya sendiri, “menimbang, memilih, mengupas dan kadang-kadang sama sekali membuang”—dan ini tentu berlaku bilamana kita membaca puisi Chairil sendiri. Yakni bahwa tidak seluruh sajaknya berhasil atau hangat-dibaca di zaman kita,[19] tapi dari kompleks kekaryaannyalah para penyair dan pengupas—juga kita, pembaca—selalu bisa memilih model mana untuk diperihalkan, ditandingi, bahkan ditolak: melalui Chairil kita tahu apa-apa yang belum dikerjakan sastra Indonesia. Saya sendiri ingin berkata bahwa sejumlah sajaknya masih terasa sulit hingga hari ini—dan inilah kesulitan yang justru menggarisbawahi bahwa puisi memang hendak mengatakan apa-apa yang mustahil dikatakan oleh bahasa. Chairil Anwar menularkan kesulitan itu kepada kita semua: yakni bahwa penyair harus memiliki, untuk mengutip ungkapan W.B. Yeats, fascination with the difficult,[20] untuk mencapai tenaga bahasa yang belum terbayangkan sebelumnya. Seorang penyair yang unggul menempuh kesulitan tersebut bukan hanya untuk menguji ketrampilan dan kegandrungannya akan bahasa, tapi juga untuk memperkaya cara pandang kita terhadap dunia.
Situasi Chairil Anwar juga memungkinkan kita bersikap tajam terhadap arus umum yang menyatakan bahwa puisi adalah pantulan riwayat penyairnya. Bagi saya kini, Chairil adalah kerja sastra dengan banyak fasetnya, yang kita tafsirkan terus-menerus; pada suatu ketika kita harus “membunuh” si penyair, karena riwayat penyair hanya memiskinkan tindak pemaknaan kita. Memelihara mitos tentang si binatang jalang hanya menjerumuskan sastra kita ke dalam nostalgia dan kelisanan. Melalui Chairil, puisi kita kini telah bercabang ke sejumlah arah, di mana si aku atau si ia dalam puisi bukan lagi sosok penyair; atau, melalui puisi, penyair hendak membunuh dirinya yang sehari-hari, supaya bahasa leluasa menampilkan keajaibannya. Seperti Chairil, setiap penyair mestinya bergulat dengan bahasa dan tradisi sastra yang ada sebelum ia: ia tak menghamburkan keseorangannya, tapi menjalinkan diri dengan para pendahulu yang diciptakannya dari tanah airnya sendiri maupun aneka belahan bumi. Dengan tradisi yang dikembangkannya, puisi Chairil Anwar adalah puisi hari ini kapan saja kita membacanya. []
Nirwan Dewanto, menulis puisi, esai, maupun genre-genre sastra yang lain. Ia pernah menempuh sejumlah program residensi, antara lain di International House di Tokyo, Jepang; University of Wisconsin di Madison, Wisconsin, USA; International Writing Program di University of Iowa, Iowa City, USA. Buku puisinya adalah Jantung Lebah Ratu (2008).



[1]^ Dalam tulisan ini saya gunakan dua istilah, “puisi” dan “sajak”: puisi adalah khazanah persajakan, yakni poetry dalam bahasa Inggris; sedangkan sajak(-sajak) adalah poem(s).
[2]^ Esai-esai Chairil Anwar, juga berbagai puisi dan prosa yang ia terjemahkan sebagian atau seluruhnya, juga sajak-sajak Chairil sendiri yang belum pernah terbit pada masa sebelumnya, bisa kita baca dalam buku suntingan H.B. Jassin, Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45 (Jakarta: Gunung Agung, 1956). Ejaan disesuaikan untuk kutipan yang saya pakai dalam tulisan ini.
[3]^ Baca esai Chairil “Pidato Radio Chairil Anwar 1943”, dalam Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45.
[4]^ “Hoppla”, dalam Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45.
[5]^ A. Teeuw pernah menulis bahwa “Berdiri Aku” adalah hipogram dari “Senja di Pelabuhan Kecil”; baca esainya “Estetik, Semiotik, dan Sejarah Sastra”, dalam kumpulan esainya Membaca dan Menilai Sastra (Jakarta: Gramedia, 1983).
[6]^ Judul “Derai-derai Cemara” datang dari Pamusuk Eneste, editor buku sajak-sajak lengkap Chairil Anwar, Aku Ini Binatang Jalang, yang sedang anda baca. Sesungguhnya sajak ini tak berjudul.
[7]^ Chairil telah menerjemahkan, atau mencoba menerjemahkan, sajak-sajak bebas, misalnya, T.S. Eliot, Rainer Maria Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, Hendrik Marsman, E. du Perron, J. Slauerhoff. LihatChairil Anwar Pelopor Angkatan 45. Dengan penerjemahan (dan penyaduran) ini Chairil menyerap modernisme dunia.
[8]^ Saya pilih satu dari dua versi. Dalam Aku Ini Binatang Jalang, kedua versi dimuat.
[9]^ Sajak sebait-empat-larik ini sesungguhnya tak berjudul. Editor Oyon Sofyan mengambil larik pertama sebagai judul; baca Amir Hamzah,Padamu Jua: Koleksi Sajak 1930-1941 (Jakarta: Grasindo, 2000).
[10]^ Zen Hae menulis, dalam esainya “Chairil dan Sebuah Lompatan” yang dibawakannya di Freedom Institute, Jakarta, 29 April 2010, bahwa kita bisa merekonstruksi frase “kita jalan sama” menjadi, misalnya, “kita di jalan yang sama,” “kita ke jalan yang sama,” “kita berjalan bersama,” “kita jalani bersama”. Kemudian, saya harap, kita bisa pula “memperbaiki” frase “hujan menebal jendela” menjadi, misalnya, “hujan menebal di jendela” atau “hujan menebalkan jendela”.
[11]^ “Aku suka pada mereka yang berani hidup” adalah satu larik dari puisi Chairil “Prajurit Jaga Malam”. Termuat pada Aku Ini Binatang Jalang.
[12]^ Asrul Sani, “Deadlock pada Puisi Emosi Semata”, dalam kumpulan esainya Surat-surat Kepercayaan, suntingan Ajip Rosidi (Jakarta: Pustaka Jaya, 1997).
[13]^ Esai saya, “Titik Tengah”, berbicara tentang sajak-sajak Sapardi Djoko Damono, termasuk hubungannya dengan puisi Chairil Anwar dan avantgardisme Indonesia. Termuat dalam bungarampai Membaca Sapardi, susunan dan Riris K. Toha-Sarumpaet dan Melani Budianta (Jakarta: Pustaka Obor & HISKI, 2010).
[14]^ Baca Jorge Luis Borges, “Kafka and His Precursors”, terjemahan dari Spanyol ke Inggris oleh Eliot Weinberger, dalam Selected Non-Fictions, editor Weinberger (New York: Viking, 1999).
[15]^ Goenawan Mohamad, “Nyanyi Sunyi Kedua: Sajak-sajak Sapardi Djoko Damono 1967-1968,” Horison, Februari 1969.
[16]^ Sajak “Prologue”. Sapardi Djoko Damono, Duka-Mu Abadi, cetakan kedua (Jakarta: Pustaka Jaya, 1975).
[17]^ Sajak “Dingin Tak Tercatat”. Goenawan Mohamad, Sajak-sajak Lengkap 1961-2001 (Jakarta: Metafor, 2001).
[18]^ Sajak “Hemat”. Sutardji Calzoum Bachri, O Amuk Kapak (Jakarta: Penerbit Sinar Harapan, 1981).
[19]^ Nilai puisi Chairil Anwar seringkali bergantung kepada aspirasi sang pembahas. Sapardi Djoko Damono memilih sajak-sajak Chairil yang berbentuk kuatrin dan sonet, dan mengecam sajak-sajak bebasnya; baca esai Sapardi “Chairil Anwar: Perjuangan Menguasai Konvensi” dalam kumpulan esainya Sihir Rendra: Permainan Makna (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999). Sebaliknya, A. Teeuw dan Goenawan Mohamad menghargai tinggi-tinggi puisi bebasnya; baca, misalnya, esai Teeuw “Sudah Larut Sekali” dalam kumpulan esainya Tergantung Pada Kata, cetakan kedua (Jakarta: Pustaka Jaya, 1983); dan esai Goenawan “Isa dan Beberapa Metamorfosis” dalam kumpulan usainya Eksotopi: Tentang Kekuasaan, Tubuh, dan Identitas (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 2002).
[20]^ Saya kutip dari pengantar Seamus Heaney untuk sajak-sajak W.B. Yeats yang dipilihnya, Poems Selected (London: Faber and Faber, 2000).