Tampilkan postingan dengan label komunitas kata bicara. Tampilkan semua postingan

Degup iang Hidup Edisi 1





"Degup iang Hidup" edisi 1. Dari Divisi Sastra Komunitas Kata Bicara.

Kelas Gambar Komunitas Kata Bicara




Kata Bicara dalam rangkaian anunya "Tul Jaenak Jae Jatul Jaeji" berencana akan membuka kelas gambar ajaib yang mana teman-teman

Tanpa perlu bawa kertas
Tanpa perlu bawa pensil
Tanpa perlu bawa alas gambar
Tanpa perlu bawa penghapus
Cukup bawa niat sama gandeng orang orang terdekat!



Sabtu, 24 Desember 2016
@TCC Wisma Tea and Coffee Corner
13.00 - INDONESIA MERDEKA!


Ga harus udah jago, ga harus udah jadi maestro, buat ikutan ngedan gambar di sini!!

Untuk mendaftar, cukup kirim sms dengan format nama lengkap dan nomor HP yang dapat dihubungi dalam susah maupun senang, kirim ke:


RSVP 081225927001
Tanpa biaya tambahan alias FREE alias GRATIS
Terbuka selebar lebarnya lebar untuk UMUM tanpa memandang status jomblo atau seken, eh taken.

#katabicara #komunitaskatabicara #lingkarbacawonosobo #sastrawiji #kelasgambar #wonosobo

Panggung Apresiasi Bebas Akhir Tahun Komunitas Kata Bicara




Dengan agak malu-malu Komunitas Kata Bicara menganukan

“Tul Jaenak Jae Jatul Jaeji”

Kejujuran adalah Kunci,
Apa adalah Isi

Tempat: TCC Wisma Tea & Coffee Corner
Tanggal: Sabtu, 24 Desember 2016
Jam: 13.00 s/d Indonesia Merdeka!

Rangkaian Acara:
-Panggung Apresiasi Bebas/Prabes (Musik, Puisi, Deklamasi, Orasi, Sandiwara, njuk karepmu meh opo)
-Kelas Nggambar
-Lapak Baca

Free Udara
Free Membaca
Free Tertawa
Free Calo

Sejawat:
-Komunitas Sastra Wiji
-Lingkar Baca Wonosobo

Mengajak ormas-ormas, komunitas-komunitas, kelompok belajar, individu-individu, segala macam jenis makhluk hidup untuk datang di acara ini sebagai bentuk pengamalan sila ke-3 Pancasila.
#komunitaskatabicara #katabicara #lingkarbacawonosobo #gerudukmoco #sastrawiji #wonosobo #panggungseni

Perasaan

Oleh: Pramudyasari


Awal dari sore
Jingga menganga di langit
Awal lebih dalam
Datang bersama lagu
Awal perasaan
Hati yang memilih
Awal cerita
Empat mata bertemu satu koordinat

Kuharapkan lagi tiupan itu
Kuanggap milik ku

KITA MENOLAK! (Mentah-Mentah)

Oleh Shima Aura Annisa


Kenapa KITA yang harus menjadi Kelinci Percobaan?
Anda tahu, betapa kesalnya saat mendengar kabar itu?
Baik? Itu menurut anda!
Bagi kita itu berita buruk.
Jaket berbulu ini sudah hangat
Kenapa harus dilepas?!
Kita sudah nyaman
Kita tak perlu berubah
Toh jika tidak ada ini anda tidak dirugikan.
Empatilah sedikit.
Anggap anakmu adalah Kita!

Tertunduk Terdiam

Karya : Andisa Rizky

Memandang wajahmu dari balik jendela kamarku itulah yang kerap kulakukan.
"Hai" Tegurmu di pagi itu saat ku hendak pergi menuju kampus
Aku hanya terdiam dan tersenyum sembari mengangguk.
Entah mengapa
apa yang tersirat dalan benak ini saat bertatap denganmu seketika diriku hening.
Bisu dan gagu.
Jatuh cinta?
Tidak aku hanya menganggumi dalam diam dibalik gorden jendela kamar...

Surabaya 14 September 2016~

KITA ADALAH PUISI DALAM PERLAWANAN



(image from tumblr)

Oleh: Egi Heryanto


Otoritas bisa jatuh hari ini, besok, atau kapan saja
Kesadaran diri tidak menjadikan arti kalau arah arus belum terbalikkan
musuh bersama hanya langkah awal,
pergerakan tidak semudah
mengarang dongeng pengantar tidur.
dan harus kau ketahui
banyak yang sudah mati di jalan ini.

Hegemoni bisa lenyap hari ini, besok, atau tidak sama sekali
persatuan adalah kebutuhan
persamaan adalah satunya-satunya ukuran
kita akan lama berada di garis depan
memisahkan berani dengan basa-basi
mereduksi kepentingan hierarki
juga aksi tanpa arti.
waktu adalah penghakiman bagi siapa saja yang lemah.
dan harus kau ketahui
menciptakan sejarah besar
tidak seperti menanak nasi.

Tirani bisa hilang hari ini, besok, atau suatu saat nanti
tapi bukan dengan demokrasi
bukan dengan tipu muslihat semacamnya.
Ingatlah Rendra, Ingatlah Wiji.
Diktat-diktat hanya memberi metode
tapi kitalah yang mesti merumuskan keadaan.
kita adalah perlawanan,
kita bukan hidup karena perlawanan
kita hidup untuk menghidupi perlawanan
agar bisa kau ketahui
telah banyak dari mereka tidak memahami untuk apa berada di sini.

Besok,
segalanya bisa lenyap.
tapi waktu dan tuhan tetap ada
walau tidak untuk siapa-siapa.
pilihan kita akan sampai pada kegamangan.
hati kita akan bertatapan dengan dilema dan perasaan takut.
kita akan diinjak kekuatan yang telah salah kita perkirakan
kita akan remuk setiap kali beradu dengan popor senapan.
nyawa kita tak semahal perdebatan sesama
darah kita tak sebanyak pertentangan yang memisahkan tujuan bersama,
sejak kapan kita sekaku ini?

suatu saat nanti kita akan mendengar dentuman itu,
prosesi kejatuhan yang kita awali
dari lusinan kata-kata yang menetas tiap saatnya
membangkitkan kesadaran,
menajamkan pikiran,
juga melepaskan keresahan.
sebab perlu kau ketahui
kata-kata begitu sakti
dan puisi adalah bentuk perlawanan paling indah.


suatu saat nanti, entah kapan.

Ruang Prahara, 18 Oktober 2016


(image from tumblr)

Wonosobo, Penyair, dan Usaha Mewadahi Kata-Kata



"Menetas telur kata
lahirlah jiwa-jiwa.
Pada puisi yang mengudara
pada suara yang menggugah angkasa."



Sabtu, 30 Juli 2016, Wonosobo--menjadi saksi bahwa malam itu ada banyak sekali bintang-bintang bersinar di langit kota dingin. Bintang-bintang yang tidak hanyak berpendar memancarkan binarnya tetapi juga berbicara menyuarakan kata-kata. 

Jam menunjukkan pukul 18,45. Kursi-kursi kayu yang sudah tertata menghadap panggung kecil dengan empat lampu temaram menyorot mulai ramai diduduki orang-orang. Bau tanah sehabis hujan sore tadi memang masih terasa, dan hampir sebagian orang di tempat itu mengenakan tambahan penghangat; jaket, memesan kopi, dan membawa kekasihnya. Bukan pada hujan pembawa dingin yang menjadi fokus perhatiannya, tapi ada hal apa di tempat itu.

Barulah pada pukul 19.10 acara di mulai. Sebuah acara sederhana kalau dibandingkan kota-kota besar di selatan atau di barat daya. Sebuah acara yang tidak disangka akan lahir juga 'Malam Puisi Wonosobo #1' di kota itu. 



(Narahubung: Desfizar Marry
Dokumentasi; Dena Isni P & Dyla Ayu S)


Acara dimulai tanpa banyak basa-basi, sambutan ala kadarnya, dan penjelasan tema pertama mengenai Chairil Anwar sebagai sosok Penyair Pesanan Bangsa dan Negara, lalu dilanjutkan pembacaan karya dari penyair-penyair yang datang. Acara ditutup dengan foto bersama.












Pada intinya adalah bagaimana ada tempat untuk tidak menyimpan tulisanmu hanya sebatas di dalam kamar. Pada intinya adalah bagaimana wadah itu ada untuk menampung mereka-mereka yang haus dan merindukan. 


"Kau boleh berbincang,boleh juga sendirian.
Kau boleh kedinginan, tapi tidak akan."





Bukan soal siapa yang ingin, tapi soal siapa yang memulai. Bukan soal siapa yang punya mimpi, tapi soal siapa yang merealisasi. Dan komunitas Kata Bicara mungkin sudah sedekat itu.


Jogja, 9 Oktober 2016
(Menunggu malam puisi Wonosobo berikutnya)




Benar-Benar Cinta Sederhana



Oleh : Ryan Prihantoro


Karpet coklat, hitam, merah, sedikit warna krem
Kipas yang mulai lelah bernafas
Terdengar lehernya mulai sakit
Koin tersebar di mana tempat, karena berasa koin tak punya makna
Buku; Buku tugas ; leptop yang terus terusan menyanyi dari rekaman Iwan Fals, Koes plus dan itu itu lagi
Padahal malam ini hujan tak datang, terasa gerah entah karena badan tak lengkap tersiram air
Karena malas saja, karena ingin seperti ini

Ku baca sendiri, sendiri
Terbesit logika yang memaksa untuk diterjemah dalam kata
Kata pertama ialah sederhana
"Aku benar benar cinta sederhana"
"Aku benar ingin bergembel ria"
"Lukisan poster seminar seminar nasional tentang ekonomi, tentang berbagai pelik negri, kurasa tak ada apa apanya saat aku berpikir sederhana
Cintaku dari cinta, sederhana dari sederhana, makna berbeda
Karena untuk ingatan terakhir aku hanya takut tak mampu menjawab, tak ada alasan untuk satu pertanyaan
Apa sebenarnya tujuan hidup di dunia?

Jogjakarta, 2 September 2016
Yang akan merubahku menjadi sederhana

Meretas Ketidakpastian

Oleh: Egi H


Malam ketika suara ayam terdengar terlalu dini berkokok di samping tembok kontrakan. Barisan semut menjemput gula di dalam toples terbuka, cicak tak berekor yang mengawasi nyamuk menjulurkan lidahnya sepersekian waktu lalu melumat tanpa ada rasa kenyang menggembirakan perburuannya. Televisi di atas meja dengan siaran biru sehabis pertandingan bola, kipas angin berputar mengarahkan dingin ke segelas kopi, dan jeda panjang pada lagu Radiohead yang membuat bunyi ceker ayam mengorek tanah kelebihan tempat di sepasang telinga.

Malam ketika waktu menjelma pisau dan jam dinding yang kehilangan akal, membawa fragmen kelam dari dalam kubur–dan menyapa lagi–hadir di saat rasa bersalah sudah tidak dimiliki. Tapi, jauh sebelum itu, pernah sekali dua kali ia datang berlama-lama mengajak bicara. Seperti nada-nada penuntutan atau sesal. Atau kebencian.

Malam ketika buku-buku belum dirapikan, tumpukan pakaian yang dijadikan bantal, lantai kotor bekas abu rokok sebagai alas tidur, dan selembar foto yang abai dipunguti. Bukan soal krisis kebebasan, bukan membicarakan etika terbaik. Hanya sebuah masa, yang begitu jauh dari hari ini, pernah terjadi.

Lalai. Trilogi cinta, persahabatan; dua kubu, benturan, dan sesuatu yang rumit. Putih dan hitam, timur dan tengah, bias dan rona, Corine dan Alina.

Bangun setelah cukup tidur. Membuka mata setelah terkatup lama. Berbicara tanpa kata-kata. Tidak terbantahkan, seseorang butuh belas kasih, secepatnya. kasih sayang, kekasih, dan pelukan yang sempat dibuat; di depan televisi, di kamar tidur, di ruang tamu, di dalam mobil, atau di tempat yang benar-benar asing bagi satu sama lain. Masih ingatkah? masih melupa, kah?

turun ke bawah tanpa dasar, menelisik rasa ingin tahu, dan lumat buah-buah rahasia, lepas dari pembatasnya. Tanpa perlawanan, entah. Hanya terpejam mata, imajinasi menggulung tinggi ke atas dan tebakan-tebakan selalu salah.

Bulat sempurna, keindahan total bukan abstrak meski tetap tidak mampu terbahasakan dengan baik. Merah muda, tipis, manis, lembab, semangka, atau dosa yang diharapkan.

Tapi hujan dan malam brengsek mengurung perut keduanya yang lapar di dalam rumah. Lama, panjang, membosankan. Sehingga kembang api yang sumbunya basah hanya jadi hiasan di samping dapur, juga potret bersusun angka belasan yang mulai jatuh dan kehabisan perekat. Adakah jarak yang tidak bisa dicapai? Apakah yang jauh mesti direngkuh? Apakah yang sudah terkubur bisa muncul? Apakah yang sudah dihapuskan bisa kembali?

Atau sebenarnya ia akan dan selalu ada di dalam diri kita? Tidak berubah dan berada di tempat yang semestinya, tempat yang justru kita ciptakan sendiri untuknya tanpa sadar?

Malam ketika sunyi,
dan ia kini muncul lagi,
sebab aku menghendaki.

Malam ketika aku sendiri,
dan ia kini benar di sini,
sebab aku tak bisa lari


sampai nanti datang wajah pagi.


(Ruang Prahara)
Jog, 7 Sept 2016

Lampu Lampau Kota Tua



Oleh: Tsaqif Al Adzin Imanulloh


Lampu lampau kota tua
di seberang jalan kiri kanan
berdegupdegup
Menyala redup--asal hidup

lagu sedih mulai disandiwarakan
Tentang pengemis muda
yang aroma ketiaknya, mulai
lupa nama asalnya
tentang pengangguran tua
yang jejak langkahnya,
mulai lupa arah kisah telapak tangannya

Mobilmobil berplat merah itu,
Berderu
memburu
menyanyikan lagulagu pilu
dari balik tebalnya kaca mobil itu

Nona pengemis dan tuan pengangguran
Berjalan pelan
membelah punggung jalan
Mementaskan lagulagu ber-ref pilu
bahasa paling gagu
Mencoba menjaga redup lampu
Entah tinggal berapa waktu

Pada setidaknya, sebelum
mobilmobil itu krmbali esok
lusa
Lantas mencerabut saklar
dari balik ruang sana

Wonosobo, 4 September 2016

Kata Mereka untuk Kita yang Berulang Tahun


Egi Heryanto : sore itu, yang sempat turun gerimis. wajah-wajah dipertemukan oleh keanehan,
tanpa keterpaksaan, barangkali.

perkenalan diri,
perkenalan aku-kau
dan keinginan
terbingkis dalam api lilin.
ditiup napas resah,
terhadapa kota tercinta
atau pemuda
bagai kura-kura tanpa rumahnya
atau
apa-apa saja yang tidak dianggap.

Desfizar Merry : Satu tahun yang lalu, aku ingat betul
Berseragam aku dan berkendara dengan was-was
Jalan ramai dan menjadi ajang mengebut di hari menuju petang

Mereka mengenalkanku pada indahnya kisah di malam hari
Perkenalan singkat dari aku yang menamai diri sebagai ikan sampai dia yang mengaku sebagai pembohong
Dan lampu di dalam pagar itu benar indah
Terlebih suara gitar dan kepul asap rokok menjadi sebuah rantai tak terputus

Satu tahun yang lalu, jangan harap aku melupa

(Mengenang Jumpa September)

Kaka Cahea : Nuansa kuning menghangatkan mendukung suasana kekeluargaan yang masih canggung.
Candaan tertahan walaupun dipaksa lepas.
Satu, dua, tiga kata tampil dengan diri sendiri.
Bingung, menanti kelahiran sang penaung.
Panik, saat terdengar tangis terpekik.
Lalu tersenyum saat semua kelar.
Dan menunggu menanti dan membuat pergerakan, tumbuh.
Aku yang tidak pernah nyaman dikeramaian, tak pernah merasa aman di kerumunan tertahan oleh tawa sesenggukan.
Lalu aku pertaruhkan semua, atas dasar rasa nyaman, aman dan kekeluargaan
Tidak ada yang menghalangi, hanya beberapa anjing menggonggong basi.
Tidak pernah kusesali bahkan jikalau akan ada kesempatan akan kuulangi, barang seribu kali.
Bukan untuk hal yang sama.
Karena memang tidak mungkin sama.
Aku adalah bagian dari kata bicara, dan aku bangga!
Dengan tidak minta dinomer satukan tapi jangan dilupakan.
Selamat ulang tahun kaca, kalian, kita, aku!

Andisa Rizki : Selamat Malam Kata Bicara

Ini ceritaku untuk kaca.
Mungkin jarak dan waktu yang memisahkan kita membuat aku hanya bisa melihat kalian berkarya lewat social media kalian aja ~

Kesibukan yang melandaku, Terkadang membuatku lupa akan kewajibanku untuk berkarya *SatuHariSatuKarya

Waktu semakin larut malam tepat menunjukan pukul 00.00 aku baru merasakan bebas di ruang tidur terlepas dari segala deadline tugas yang menghampiriku.

Aku cukup bertrimakasih kepada kurang lebih 62 Members kaca yang Selalu mau berbagi ilmu kepada ku, Saling mendukung dan yaa seperti kaya udah pernah ketemu hehehe^^

Dann Ga krasa Usia kaca sudah 1Tahun berjalan, SELAMAT ULANG TAHUN KACA YANG KE SATU TAHUN. TERUS BERKARYA , SEGERA MAKIN MEMPERLUAS JARINGAN, KELUAR DARI ZONA AMAN RAIH MEMBER BUAT KARYA !!! hihihi

Selamat ulang tahun KACA.

Akbar Daffa : Jarak hanya masalah waktu,yang penting bagaimana kita menyiasati Rindu, satu tahun yang lalu,gerimis, membasahi jalanan,kehangatan di cangkir-cangkir mulai mengudara, tapi tidak dengan Kata Bicara, yang baru lahir sore itu,dengan roti tart berbentuk segitiga dan ada lilin-lilin diatasnya. Kata Bicara lahir di lembayung senja, dengan bumi yang basah,udara yang dingin tetapi suasana hangat,Maka Kata Bicara lahir dilingkup kehangatan.
Sekalipun aku dulu tak mengenal dirimu,
sekarang aku,kamu dan kalian adalah pengisi hariku.
Kertas,Pena,Kotak suara,telinga,dan hal-hal yang gila menjadi bara untuk kita, menjadi susu untuk Kata Bicara yang berumur satu ini,untuk menjadi lebih maju.
Kaca?
Kata Bicara.


Rizqia Fatwa : Aku menulis tentang kenangan yang kita buat bersama-sama. Libur panjang tahun lalu, aku ingat betul. Sore hari bersama kawan lama, mengendarai motor ke pinggir kota. Menemui wajah-wajah yang tak kukenal semuanya. Membawa senyumku seadanya, aku dan kalian saling bertukar sapa.

Aku sempat asing dan linglung. Ada tawa yang entah milik siapa, gadis yang cemas karena hari mulai petang, senyum malu-malu dari cinta yang baru saja merekah, surat kaleng yang ketahuan siapa pengirimnya, cinta lama atau bahkan yang belum usai.

Dan sekarang, aku suka semuanya. Kecuali asap rokoknya.

Nindyo Aji : Beberapa minggu setelah kaca lahir, aku datang ke acara malam kaca yang pertama atau malah yang kedua? Entah aku tidak begitu ingat. Datang sebagai orang asing dengan wajah datar seperti biasa. Ditemani dengan gerimis manja yang membasahi separuh celana jeans dan jaketku.

Awal pertemuan yang tidak kulupakan, yaa, membaca puisi untuk pertama kalinya sebagai 'tamu' di depan teman-teman anggota kata bicara, meskipun dengan gugup hahaha.

Dan pengalaman lain yang tak terlupakan, Imaginary Land tentunya! Latihan keras berhari-hari demi hasil yang terbaik dan memuaskan, ini menjadi sebuah acara yang membuatku berani tampil di depan umum, ditonton banyak orang hehehe

Aku rindu kalian, aku rindu jargon kaca, aku rindu saat berkumpul, canda tawa, semuanya...

Selamat ulang tahun Kata Bicara, semoga bisa lebih baik kedepannya. :)

#SatutahunKataBicara

- Terima kasih teman-teman semua yang telah mengucapkan Ulang Tahun Kata Bicara yang pertama.
Terimakasih telah mengikuti official line kami. Semoga kedepannya kami sanggup memberikan apa yang harusnya didapatkan remaja saat ini.
Untuk kritik, saran, dan segala bentuk masukan bisa kirimkan ke e-mail kami di komunitaskatabicara@gmail.com

Salam rasa, karya, dan sastra!



KACA?!

Mampus

Mampus

Oleh: Farhani Akhfa Hapsari



Dendam tak kunjung padam pada seorang pejabat negara buatannya sendiri. Ah, bukan, mantan lebih tepatnya. Mantan pejabat.

Sok berkuasa. Ngah!
Mimpi-mimpimu sudah tak layak langsung tindak, Tuan.
Kau dipimpin, sekarang.

Ruang lengang, negara tak berdaya, ekonomi tak lagi melangkah.
Terimakasih, Tuan.
Berkatmu para pejabat tak berani lagi bertindak.
Pejabat kini terikat. Terbelenggu. Mampus dimakan kau.

"Kudeta!"
Teriakmu lantang.
Tak terima kami menantang.
Lalu kembali mati dipecut waktu.

"Mati! Mati! Mati!!!"
Gerutu kami di sudut peti.


(Alambawahsadar, 24 Sept 2016)

Benarkah Nona?

Benarkah Nona?

Oleh : Vilodhia Sabda Gusti

Ingat betul kali mengenal engkau? Walau hanya lewat dunia maya
Mengalir pertanyaan-pertanyaan kecil,
Obrolan larut malam
Tentang masa depan dan candaa-candaan bahkan gombalan-gombalan  bertukar kegembiaraan, ingatkah nona? Bukan salahmu  jika kamu lupa nona
Ada yang kurang nona,
Aku yakin kamu kurang percaya nona, betulkah begitu?
Maafkan jika salah , itu hanya persepsiku saja...
aku ingin memulai yang berbeda nona, bukan itu -itu saja, begitu-begitu saja
Mari mulai sebuah perjumpaan berdua, bertukar sapa, saling menanya denganmu sangat dinanti, nona
Karena, kamu sangat berbeda nona
Akan akan sangat menghargai detik demi detik denganmu nona
Simpel saja
obrolan- obrolan kecil satu meja saja, nona
Duduk di satu atap, saling menatap
Dan bertukar senyum bahkan tertawa- tertawa
Lalu , obrolan-obrolan menyimpulkan senyum
Dan apa saja yang bisa aku ceritakan nona
Untuk apa? Agar kita  paham sedalam apa hati ini jatuh, nona
Lalu, aku sedikit lega, aku bisa melihat apakah ada sebuah perbedaan usai perjumpaan
Lebih dari Penasaranku kepadamu nona, melibatkan apa yang seharusnya dilibatkan
Aku suka padamu nona...

2 oktober 2016

Anjing Diburu Anjing

Anjing Diburu Anjing

Oleh : Khajat Purnomo

Kalau sudah dilupakan begitu saja
Dipendam dalam liang-liang tanpa nisan
Cacing-cacing, belatung-belatung, dan segala hewan sesamanya
Yang telah bekerja sebaik-baiknya
Mengurai bangkai mereka menjadi zat-zat yang menyuburkan tanah
Yang basah merah

Kalau sudah dilupakan begitu saja
Tumbuhlah kamu dari sari-sari bangkai manusia-manusia
Yang dibangkaikan secara anjing diburu
Bukankah kamu dilahirkan dari rahim ibu?

Jika memang sudah dilupakan begitu saja
Bekas luka menjadi tato di dada
Sementara di matamu aku anjing
Yang kasihan dengan anjing terburu


02 Okt 2016

Dalam Sebuah Lingkaran

Dalam Sebuah Lingkaran

oleh : Ryan Prihantoro

Tertanggal 2 Oktober 2016
Mengenai desas desus tanpa kasus
Melangkah perginya waktu tanpa menyapa
Aku hanya ingin disapamu
Cukup senyummu tiap kau ingin lewat
Aku takut yang kuibaratkan waktu adalah kereta
Ia akan terus pergi tak singgah dalam stasiun stasiun kecil penantianku
Aku hanya takut, kala tiap detikmu bergulir begitu saja
Banyak yang bersenggama, berjilat lidah pada gelombang pupus keabadian
Aku tahu hanya kau yang abadi
Menemani sejarah gulir berganti
Aku tahu kau tak dimiliki siapapun dan untuk apapun
Kau tak punya tempat tapi memakan tempat
Mengapa kau harus ada? Itu pertanyaan konyol orang bodoh
Mengapa kau tak lelah berjalan? Itu pertanyaan goblok orang konyol
Lalu apa aku bisa memilikimu, dalam genggaman jari jari kasar kuliku
Atau memilikimu dengan bermain bersamamu
Aku tahu aku bisa memilikimu dalam angan
Dalam imajinasi yang tak terbatas salah dari bermacam segi
Hanya angan
Sekali lagi hanya angan
Aku sebagai kusir dari pedatiku yaitu waktu

MCK

MCK

Oleh: Kaka Cahea Caradhiki


Jantan  betina umpama.
Rintik remang dan lampu hujan.
Belati meruji bergulir membelah punggung kasap tempat broker memvorsir pekerja sesuai tenggat.
Aku bingung sama tapir besi yang kutumpangi kembali melengking mengusir keledai yang tidak mau memberi jalan.
Perihal takdir dan masa depan.

Hari tua yang merona.
Makin senja makin ranum.
Lalu gulita.
Jagung tumbuh berbuah, dipanen lalu dibiarkan mengering ditanah yang subur.
Itu karena umur.
Kembali untuk pergi.
Hidup untuk mati.

Kamu jantan ku kamu betina ku.
Lalu aku apa mu?
Jengah merasa terbenam.
Terperosok obrolan yang semakin mengawang.
Terantuk saat pagi menjelang.
Tersenyum melirik denting mempercepat torsi.
Kamu kembali riang di ujung lorong.
Seakan tidak peduli dengan resah yang menjadi temanmu saat sendiri.

Perempuan penertawa sepi.
Perbolehkan aku menjadi pengganti resahmu saat kamu seorang diri.
Resahmu nyaris tidak pernah kamu tunjukan.
Kamu yang sistematis dalam melangkah
Bingung adalah tidak ada untukmu.

Tangis mengisak.
Air mata itu berharga, yang disimpan khusus untuk menghadapi sesuatu yang mungkin tidak bisa kamu hadapi. Ya too?
Kamu perawan tunggal, bertumpu menggilas apa apa yang kamu sebut mengganggu.
Kamu perkasa, menghantam apa apa yang menghalau jalanmu.

"Aku tidak bisa melihat langit, sejak kecil." Katamu.
"Karena kau ditakdirkan menjadi langit" kataku.
Setelah itu kulihat tangismu, menggelugu.
Kamu tak menangis begitu ketika bercerita tentang hidupmu yang hampir berakhir waktu terjatuh kekolam renang saat baru di usapi minyak angin oleh mama mu.

Dasar kamu
Perempuan tampan.
Lelaki cantik.
Ya too? Dan aku mau buang air besar.

Yk, 2 Oktober 2016

Seperti ini Kisahnya

Seperti ini Kisahnya

Oleh: Egi H


ia memang tak ingin sampai
pada pencapaian yang ia sendiri
tak mengerti. sekalipun ia mampu,
tapi bukan itu barangkali yang sanggup membebaskannya.

ia memang tak terlalu suka keadaannya sekarang ini,
semu dan lebih sering statis. meski ia tahu dalam hidupnya masih ada suatu hal berharga (keindahan juga perasaan takut) di alam fantasinya sendiri.

ia memang tak lagi jadi bahan pembicaraan di gerombolan-gerombolan penyeduh kopi
walau masih dekat dan mengenal betul rasa disalah artikan
atau diajak pergi pembual kawakan.

ia memang tak lagi jadi tempat bernaung gadis-gadis dengan segala permasalahan
sekalipun ia sanggup memberi pencerahan dua atau tiga kali lebih banyak dari masalah itu.
tapi ia masih hafal betul
bagaimana tangis pecah saat orang-orang berada pada ranjang mereka–
tangis perempuan yang butuh untuk didengarkan–dan ia mau tak mau harus menyisihkan kesempatan isitirahnya,
pada saat itu.


ia memang tak lagi senang mengencani gadis-gadis yang muncul dari kata-kata ala pujangga kelas teri berunjuk gigi
menebar diabetes di hati yang serba murah. meski ia tahu betul ia belum terlalu tua untuk melakukannya lagi,
toh ingatannya masih kuat untuk menyusun kata-kata bualan seperti yang pernah dan berhasil ia lakukan dulu.

ia memang tak jadi apa-apa kini. sekalipun ia memaksa keinginannya harus terpenuhi.
ada yang habis seperi baterai jam dinding.
ada yang usang seperti buku bekas kiloan yang nominalnya lebih murah dari sempak babu-babu rumah mewah.

ia memang sudah diganti.
sekalipun ia ingin mengulangi keperkasaannya
dan hilang sadar bahwa keadaan berganti.
ia memang ingat semua hal,
tapi ia tak ingat satu sebab,
ia sudah habis.
habis dan belum diupgrade.
habis dan belum diisi ulang.
habis dan jadi bahan tertawaan
orang-orang yang sudah bangga pernah ia lukai,

pada saat itu.


4 Oktober 2016

Satu Tahun Menyusun Kata untuk Bicara

“yang menjadikan bertambahnya umur perlu dirayakan bukanlah sebab kue dan lilin atau kembang api bahkan sebuah kado, melainkan atas dasar sejauh mana dan apa saja yang telah dilakukan sejak kelahirannya.”

Tanggal 19 September 2016 kemarin, Komunitas Kata Bicara tepat berusia satu tahun. Tahun pertama yang tidak mudah, banyak kerikil tajam, dan banyak juga gelak tawa.
Tahun pertama yang membuat kami sadar bahwa kami harus lebih dan lebih lagi,
bahwa kami harus tidak mudah puas atas pencapaian,
bahwa kami sadar betul untuk apa kami dilahirkan,
bahwa kami masih cukup sisa umur untuk melakukan apa yang belum kami lakukan di hari-hari sebelumnya.


Terimakasih kepada semua pihak yang selama satu tahun ini telah membantu, mendukung, membimbing, kritik, apresiasi, dan menganggap kami ada.

Salam rasa, karya, sastra!

SELAMAT HARI BURUH 1 Mei2016 - Refrensi buku pergerakan buruh di indonesia




SELAMAT HARI BURUH 1 Mei2016: Refrensi buku pergerakan buruh di indonesia.
Selamat Hari Buruh 1 Mei 2016, Kepada seluruh buruh yang menyediakan sandang, papan, pangan, kebutuhan setiap hari. Tanpamu mati roda ekonomi.

Sejarah pergerakan buruh di indonesia
http://www.amartapura.com/uploadimg/f_s/sejarahpergerakanburuhindonesia_5228.jpg
Penulis  : Sandra
Editor    : Surya Tjandra
Penerbit : TURC
Tebal      : 176 halaman
Sejarah panjang pergerakan buruh di negeri kita dikupas secara mendalam di buku "Sejarah Pergerakan Buruh Indonesia" yang diterbitkan ulang oleh Trade Union Rights Centre (TURC) pada 2007.
Disebutkan bahwa pergerakan buruh di negeri ini dimulai pada abad ke-19 hampir mendekati silamnya, tepatnya pada 1897. Pada saat itu, serikat buruh yang pertama didirikan adalah NIOG (Nederland Indies Onderw. Genoots) atau serikat guru-guru bangsa Belanda. Jadi, cikal bakal munculnya gerakan buruh malah dimulai dari inisiatif bangsa kolonial. Namun, dari langkah tersebut, yang sifatnya merupakan "organisasi golongan," cukup menjadi pendorong bagi pertumbuhan organisasi di antara bangsa sendiri.
Kelebihan buku ini adalah penulis mampu menuangkan kejadian dengan jujur. Ia mampu mencatat rekaman gerakan buruh dengan jernih tanpa berpretensi mengajukan beban analisa yang berat. Rekamannya yang jujur itulah yang justru menjadi keunggulan utama buku ini.
Keunggulan lainnya adalah buku ini menawarkan perspektif sejarah dalam melihat pergerakan buruh Indonesia. Ia menyediakan bahan bacaan yang bersendikan sejarah buruh Indonesia sendiri (local reference), tanpa harus repot mengutip teori canggih dari luar negeri.

Gerakan Perlawanan Buruh
https://s2.bukalapak.com/img/2/1/5/8/4/7/6/5/2/w-300/GERAKAN%20PERLAWANAN%20BURUH%20-%20GAGASAN%20POLITIK%20DAN%20PENGALAMAN%20PERBERDAYAAN%20BURUH%20PRA%20REFORMASI.pngJudul          : Gerakan Perlawanan Buruh
Penulis        : Munir
Tahun          : 2014
Halaman     : 124
Penerbi        : Intrans Publishing
Buku ini adalah penyempurnaan dari buku Munir yang pada tahun 2005 diterbitkan dengan judul ”Gerakan Perlawanan Buruh: Catatan Pikiran, Pengalaman dan Pemberdayaan Buruh (1990-an sampai reformasi)”. Jika pada terbitan pertama buku ini diterbitkan sebagai persembahan 1 tahun wafatnya almarhum Munir, sekarang buku ini diterbitkan untuk memperingati 10 tahun kematiannya. Sebagaimana kata Munir sendiri, Jika nantinya buku ini bisa diakses secara mudah oleh kaum buruh.
Lebih dari sekedar tujuan Profit Oriented, buku ini diterbitkan agar benar-benar menjadi refleksi dan pelajaran sejarah, bagaimana gerakan buruh di masa lalu mula-mula dirintis pada era rezim pemerintahan yang masih otoriter. Sudah barang tentu, dalam situasi seperti itu, berwacana, berkumpul dan bergerak untuk melawan oligarki atau perselingkuhan pengusaha dengan penguasa adalah pertaruhan yang sangat besar.

Buruh menuliskan perlawanannya
Judul      : Buruh Menuliskan Perlawanannya
Penulis   : Bambang T.D dll.
Penerbit : Diandra Primamitra
Tahun     : 2015
Sejarah mencatat, sejak pertengahan 2000-an secara berangsur- angsur banyak orang mulai tersadar bahwa menjadi buruh murah tanpa kepastian kerja adalah memuakkan dan menjengkelkan.
Mulai banyak buruh yang marah terhadap kebijakan upah murah (warisan Orde Baru) dan pasar tenaga kerja fieksibel. Ada yang marah lebih awal, ada pula yang baru marah sekarang. Dulu yang marah hanya sedikit, sekarang jauh lebih banyak. fieberapa serikat buruh gagal atau terlambat menyadari dua soal sumber keresahan buruh ini; beberapa lebih cepat langgap. Namun, yang jauh lebih penting, semakin banyak buruh dan serikat buruh yang kemudian teryakinkan bahwa kebijakan upah murah dan pasar tenaga kerja fieksibel boleh dan harus dilawan. Protes terhadap kesewenang-wenangan majikan, dan ketidakpedulian Dinas Tenaga Kerja setempat, meluas di mana-mana. Buruh semakin percaya bahwa protes itu dibolehkan. Semakin banyak orang terlibat aksi protes bersama. Puncaknya, dua tahun berturut-turut (2011-2012), serikat-serikat buruh Indonesia sepakat menggalang dua kali Mogok Nasional.
Buku ini memuat tulisan dari 15 buruh Indonesia yang merupakan para aktiyis serikat buruh. Tentu saja mereka bukan orang-orang yang terlibat langsung dalam perumusan kebijakan ekonomi makro. Semua adalah orang biasa, tidak ada satupun yang cukup lerkenal.