Tiga Bab Menjelang Lelap


Oleh: Egi Heryanto

(I)
Kamu tidak pernah tahu di saat yang sama aku malah terlalu sok tahu

Kamu terlalu diam, sedang di saat yang sama aku kebanyakan cakap

Kamu kebanyakan acuh ketika aku hadir untuk menyapa.

Begitulah kita,
berbeda. 

(II)
Aku tidak pernah tahu kalau sebenarnya kamu tidak mau tahu.

Aku datang lagi, sedang di saat yang sama kamu lebih tertarik sepi.

Aku memilih mengencani ingatan meski kamu lebih senang mengurung diri.

Tak apa. Sepenuhnya bukan salah.
Sebab,
Kita berbeda.

(III)
aku dan kamu
atau
kamu dan banyak kemungkinan lain yang lebih bisa terealisasikan.
Karena kita memang beda,
kita tidak pernah lagi sama
sejak hujan November jatuh
dan tidak ada lagi dekap dada pada punggung
atau jaket tipis yang membatasimu
dari basah air jatuh
dari malam yang selalu rahasia
juga segala yang tanda tanya,
sebab kita sama tahu
salah satu dari kamu dan aku
tidak lagi ada di situ.

(Cipete, 2 November 2015)




Untuk wanitaku


Karya Puspa Rahayu

 

Sudahkah kamu lihat titik air diujung mataku

Menandakan robohnya harapan yang aku bangun sejak dahulu.

Seberapa sering kamu bunuh bahagianya, 

Seberapa banyak kamu renggut kenikmatan hidupnya

Aku yang disini, berusaha memulangkan senyumnya yang kau bawa pergi

Menata kembali satu per satu tumpuan hati yang lama difondasi

Untuk kalian, yang berani mengadu hatinya, membuat mati rasa semua yang dia punya.

Aku berjanji, untuk dirinya

Tak akan ada lagi dirimu, kamu yang menyapu bersih butiran jernih kasih tulus darinya, merubah ia menjadi manusia angkuh dihadapanku.

Aku berjanji, untuk wanitaku.

Tidak akan ada lagi alasan yang bisa membuat dirimu menunduk menahan tangis.

Tenang saja. Bahagialah denganku, wanitaku.

(Wonosobo, 30 Oktober 2015)