Tampilkan postingan dengan label komunitas kata bicara. Tampilkan semua postingan

Degup iang Hidup Edisi 1





"Degup iang Hidup" edisi 1. Dari Divisi Sastra Komunitas Kata Bicara.

Kelas Gambar Komunitas Kata Bicara




Kata Bicara dalam rangkaian anunya "Tul Jaenak Jae Jatul Jaeji" berencana akan membuka kelas gambar ajaib yang mana teman-teman

Tanpa perlu bawa kertas
Tanpa perlu bawa pensil
Tanpa perlu bawa alas gambar
Tanpa perlu bawa penghapus
Cukup bawa niat sama gandeng orang orang terdekat!



Sabtu, 24 Desember 2016
@TCC Wisma Tea and Coffee Corner
13.00 - INDONESIA MERDEKA!


Ga harus udah jago, ga harus udah jadi maestro, buat ikutan ngedan gambar di sini!!

Untuk mendaftar, cukup kirim sms dengan format nama lengkap dan nomor HP yang dapat dihubungi dalam susah maupun senang, kirim ke:


RSVP 081225927001
Tanpa biaya tambahan alias FREE alias GRATIS
Terbuka selebar lebarnya lebar untuk UMUM tanpa memandang status jomblo atau seken, eh taken.

#katabicara #komunitaskatabicara #lingkarbacawonosobo #sastrawiji #kelasgambar #wonosobo

Panggung Apresiasi Bebas Akhir Tahun Komunitas Kata Bicara




Dengan agak malu-malu Komunitas Kata Bicara menganukan

“Tul Jaenak Jae Jatul Jaeji”

Kejujuran adalah Kunci,
Apa adalah Isi

Tempat: TCC Wisma Tea & Coffee Corner
Tanggal: Sabtu, 24 Desember 2016
Jam: 13.00 s/d Indonesia Merdeka!

Rangkaian Acara:
-Panggung Apresiasi Bebas/Prabes (Musik, Puisi, Deklamasi, Orasi, Sandiwara, njuk karepmu meh opo)
-Kelas Nggambar
-Lapak Baca

Free Udara
Free Membaca
Free Tertawa
Free Calo

Sejawat:
-Komunitas Sastra Wiji
-Lingkar Baca Wonosobo

Mengajak ormas-ormas, komunitas-komunitas, kelompok belajar, individu-individu, segala macam jenis makhluk hidup untuk datang di acara ini sebagai bentuk pengamalan sila ke-3 Pancasila.
#komunitaskatabicara #katabicara #lingkarbacawonosobo #gerudukmoco #sastrawiji #wonosobo #panggungseni

Perasaan

Oleh: Pramudyasari


Awal dari sore
Jingga menganga di langit
Awal lebih dalam
Datang bersama lagu
Awal perasaan
Hati yang memilih
Awal cerita
Empat mata bertemu satu koordinat

Kuharapkan lagi tiupan itu
Kuanggap milik ku

KITA MENOLAK! (Mentah-Mentah)

Oleh Shima Aura Annisa


Kenapa KITA yang harus menjadi Kelinci Percobaan?
Anda tahu, betapa kesalnya saat mendengar kabar itu?
Baik? Itu menurut anda!
Bagi kita itu berita buruk.
Jaket berbulu ini sudah hangat
Kenapa harus dilepas?!
Kita sudah nyaman
Kita tak perlu berubah
Toh jika tidak ada ini anda tidak dirugikan.
Empatilah sedikit.
Anggap anakmu adalah Kita!

Tertunduk Terdiam

Karya : Andisa Rizky

Memandang wajahmu dari balik jendela kamarku itulah yang kerap kulakukan.
"Hai" Tegurmu di pagi itu saat ku hendak pergi menuju kampus
Aku hanya terdiam dan tersenyum sembari mengangguk.
Entah mengapa
apa yang tersirat dalan benak ini saat bertatap denganmu seketika diriku hening.
Bisu dan gagu.
Jatuh cinta?
Tidak aku hanya menganggumi dalam diam dibalik gorden jendela kamar...

Surabaya 14 September 2016~

KITA ADALAH PUISI DALAM PERLAWANAN



(image from tumblr)

Oleh: Egi Heryanto


Otoritas bisa jatuh hari ini, besok, atau kapan saja
Kesadaran diri tidak menjadikan arti kalau arah arus belum terbalikkan
musuh bersama hanya langkah awal,
pergerakan tidak semudah
mengarang dongeng pengantar tidur.
dan harus kau ketahui
banyak yang sudah mati di jalan ini.

Hegemoni bisa lenyap hari ini, besok, atau tidak sama sekali
persatuan adalah kebutuhan
persamaan adalah satunya-satunya ukuran
kita akan lama berada di garis depan
memisahkan berani dengan basa-basi
mereduksi kepentingan hierarki
juga aksi tanpa arti.
waktu adalah penghakiman bagi siapa saja yang lemah.
dan harus kau ketahui
menciptakan sejarah besar
tidak seperti menanak nasi.

Tirani bisa hilang hari ini, besok, atau suatu saat nanti
tapi bukan dengan demokrasi
bukan dengan tipu muslihat semacamnya.
Ingatlah Rendra, Ingatlah Wiji.
Diktat-diktat hanya memberi metode
tapi kitalah yang mesti merumuskan keadaan.
kita adalah perlawanan,
kita bukan hidup karena perlawanan
kita hidup untuk menghidupi perlawanan
agar bisa kau ketahui
telah banyak dari mereka tidak memahami untuk apa berada di sini.

Besok,
segalanya bisa lenyap.
tapi waktu dan tuhan tetap ada
walau tidak untuk siapa-siapa.
pilihan kita akan sampai pada kegamangan.
hati kita akan bertatapan dengan dilema dan perasaan takut.
kita akan diinjak kekuatan yang telah salah kita perkirakan
kita akan remuk setiap kali beradu dengan popor senapan.
nyawa kita tak semahal perdebatan sesama
darah kita tak sebanyak pertentangan yang memisahkan tujuan bersama,
sejak kapan kita sekaku ini?

suatu saat nanti kita akan mendengar dentuman itu,
prosesi kejatuhan yang kita awali
dari lusinan kata-kata yang menetas tiap saatnya
membangkitkan kesadaran,
menajamkan pikiran,
juga melepaskan keresahan.
sebab perlu kau ketahui
kata-kata begitu sakti
dan puisi adalah bentuk perlawanan paling indah.


suatu saat nanti, entah kapan.

Ruang Prahara, 18 Oktober 2016


(image from tumblr)

Wonosobo, Penyair, dan Usaha Mewadahi Kata-Kata



"Menetas telur kata
lahirlah jiwa-jiwa.
Pada puisi yang mengudara
pada suara yang menggugah angkasa."



Sabtu, 30 Juli 2016, Wonosobo--menjadi saksi bahwa malam itu ada banyak sekali bintang-bintang bersinar di langit kota dingin. Bintang-bintang yang tidak hanyak berpendar memancarkan binarnya tetapi juga berbicara menyuarakan kata-kata. 

Jam menunjukkan pukul 18,45. Kursi-kursi kayu yang sudah tertata menghadap panggung kecil dengan empat lampu temaram menyorot mulai ramai diduduki orang-orang. Bau tanah sehabis hujan sore tadi memang masih terasa, dan hampir sebagian orang di tempat itu mengenakan tambahan penghangat; jaket, memesan kopi, dan membawa kekasihnya. Bukan pada hujan pembawa dingin yang menjadi fokus perhatiannya, tapi ada hal apa di tempat itu.

Barulah pada pukul 19.10 acara di mulai. Sebuah acara sederhana kalau dibandingkan kota-kota besar di selatan atau di barat daya. Sebuah acara yang tidak disangka akan lahir juga 'Malam Puisi Wonosobo #1' di kota itu. 



(Narahubung: Desfizar Marry
Dokumentasi; Dena Isni P & Dyla Ayu S)


Acara dimulai tanpa banyak basa-basi, sambutan ala kadarnya, dan penjelasan tema pertama mengenai Chairil Anwar sebagai sosok Penyair Pesanan Bangsa dan Negara, lalu dilanjutkan pembacaan karya dari penyair-penyair yang datang. Acara ditutup dengan foto bersama.












Pada intinya adalah bagaimana ada tempat untuk tidak menyimpan tulisanmu hanya sebatas di dalam kamar. Pada intinya adalah bagaimana wadah itu ada untuk menampung mereka-mereka yang haus dan merindukan. 


"Kau boleh berbincang,boleh juga sendirian.
Kau boleh kedinginan, tapi tidak akan."





Bukan soal siapa yang ingin, tapi soal siapa yang memulai. Bukan soal siapa yang punya mimpi, tapi soal siapa yang merealisasi. Dan komunitas Kata Bicara mungkin sudah sedekat itu.


Jogja, 9 Oktober 2016
(Menunggu malam puisi Wonosobo berikutnya)




Benar-Benar Cinta Sederhana



Oleh : Ryan Prihantoro


Karpet coklat, hitam, merah, sedikit warna krem
Kipas yang mulai lelah bernafas
Terdengar lehernya mulai sakit
Koin tersebar di mana tempat, karena berasa koin tak punya makna
Buku; Buku tugas ; leptop yang terus terusan menyanyi dari rekaman Iwan Fals, Koes plus dan itu itu lagi
Padahal malam ini hujan tak datang, terasa gerah entah karena badan tak lengkap tersiram air
Karena malas saja, karena ingin seperti ini

Ku baca sendiri, sendiri
Terbesit logika yang memaksa untuk diterjemah dalam kata
Kata pertama ialah sederhana
"Aku benar benar cinta sederhana"
"Aku benar ingin bergembel ria"
"Lukisan poster seminar seminar nasional tentang ekonomi, tentang berbagai pelik negri, kurasa tak ada apa apanya saat aku berpikir sederhana
Cintaku dari cinta, sederhana dari sederhana, makna berbeda
Karena untuk ingatan terakhir aku hanya takut tak mampu menjawab, tak ada alasan untuk satu pertanyaan
Apa sebenarnya tujuan hidup di dunia?

Jogjakarta, 2 September 2016
Yang akan merubahku menjadi sederhana

Meretas Ketidakpastian

Oleh: Egi H


Malam ketika suara ayam terdengar terlalu dini berkokok di samping tembok kontrakan. Barisan semut menjemput gula di dalam toples terbuka, cicak tak berekor yang mengawasi nyamuk menjulurkan lidahnya sepersekian waktu lalu melumat tanpa ada rasa kenyang menggembirakan perburuannya. Televisi di atas meja dengan siaran biru sehabis pertandingan bola, kipas angin berputar mengarahkan dingin ke segelas kopi, dan jeda panjang pada lagu Radiohead yang membuat bunyi ceker ayam mengorek tanah kelebihan tempat di sepasang telinga.

Malam ketika waktu menjelma pisau dan jam dinding yang kehilangan akal, membawa fragmen kelam dari dalam kubur–dan menyapa lagi–hadir di saat rasa bersalah sudah tidak dimiliki. Tapi, jauh sebelum itu, pernah sekali dua kali ia datang berlama-lama mengajak bicara. Seperti nada-nada penuntutan atau sesal. Atau kebencian.

Malam ketika buku-buku belum dirapikan, tumpukan pakaian yang dijadikan bantal, lantai kotor bekas abu rokok sebagai alas tidur, dan selembar foto yang abai dipunguti. Bukan soal krisis kebebasan, bukan membicarakan etika terbaik. Hanya sebuah masa, yang begitu jauh dari hari ini, pernah terjadi.

Lalai. Trilogi cinta, persahabatan; dua kubu, benturan, dan sesuatu yang rumit. Putih dan hitam, timur dan tengah, bias dan rona, Corine dan Alina.

Bangun setelah cukup tidur. Membuka mata setelah terkatup lama. Berbicara tanpa kata-kata. Tidak terbantahkan, seseorang butuh belas kasih, secepatnya. kasih sayang, kekasih, dan pelukan yang sempat dibuat; di depan televisi, di kamar tidur, di ruang tamu, di dalam mobil, atau di tempat yang benar-benar asing bagi satu sama lain. Masih ingatkah? masih melupa, kah?

turun ke bawah tanpa dasar, menelisik rasa ingin tahu, dan lumat buah-buah rahasia, lepas dari pembatasnya. Tanpa perlawanan, entah. Hanya terpejam mata, imajinasi menggulung tinggi ke atas dan tebakan-tebakan selalu salah.

Bulat sempurna, keindahan total bukan abstrak meski tetap tidak mampu terbahasakan dengan baik. Merah muda, tipis, manis, lembab, semangka, atau dosa yang diharapkan.

Tapi hujan dan malam brengsek mengurung perut keduanya yang lapar di dalam rumah. Lama, panjang, membosankan. Sehingga kembang api yang sumbunya basah hanya jadi hiasan di samping dapur, juga potret bersusun angka belasan yang mulai jatuh dan kehabisan perekat. Adakah jarak yang tidak bisa dicapai? Apakah yang jauh mesti direngkuh? Apakah yang sudah terkubur bisa muncul? Apakah yang sudah dihapuskan bisa kembali?

Atau sebenarnya ia akan dan selalu ada di dalam diri kita? Tidak berubah dan berada di tempat yang semestinya, tempat yang justru kita ciptakan sendiri untuknya tanpa sadar?

Malam ketika sunyi,
dan ia kini muncul lagi,
sebab aku menghendaki.

Malam ketika aku sendiri,
dan ia kini benar di sini,
sebab aku tak bisa lari


sampai nanti datang wajah pagi.


(Ruang Prahara)
Jog, 7 Sept 2016

Lampu Lampau Kota Tua



Oleh: Tsaqif Al Adzin Imanulloh


Lampu lampau kota tua
di seberang jalan kiri kanan
berdegupdegup
Menyala redup--asal hidup

lagu sedih mulai disandiwarakan
Tentang pengemis muda
yang aroma ketiaknya, mulai
lupa nama asalnya
tentang pengangguran tua
yang jejak langkahnya,
mulai lupa arah kisah telapak tangannya

Mobilmobil berplat merah itu,
Berderu
memburu
menyanyikan lagulagu pilu
dari balik tebalnya kaca mobil itu

Nona pengemis dan tuan pengangguran
Berjalan pelan
membelah punggung jalan
Mementaskan lagulagu ber-ref pilu
bahasa paling gagu
Mencoba menjaga redup lampu
Entah tinggal berapa waktu

Pada setidaknya, sebelum
mobilmobil itu krmbali esok
lusa
Lantas mencerabut saklar
dari balik ruang sana

Wonosobo, 4 September 2016

Kata Mereka untuk Kita yang Berulang Tahun


Egi Heryanto : sore itu, yang sempat turun gerimis. wajah-wajah dipertemukan oleh keanehan,
tanpa keterpaksaan, barangkali.

perkenalan diri,
perkenalan aku-kau
dan keinginan
terbingkis dalam api lilin.
ditiup napas resah,
terhadapa kota tercinta
atau pemuda
bagai kura-kura tanpa rumahnya
atau
apa-apa saja yang tidak dianggap.

Desfizar Merry : Satu tahun yang lalu, aku ingat betul
Berseragam aku dan berkendara dengan was-was
Jalan ramai dan menjadi ajang mengebut di hari menuju petang

Mereka mengenalkanku pada indahnya kisah di malam hari
Perkenalan singkat dari aku yang menamai diri sebagai ikan sampai dia yang mengaku sebagai pembohong
Dan lampu di dalam pagar itu benar indah
Terlebih suara gitar dan kepul asap rokok menjadi sebuah rantai tak terputus

Satu tahun yang lalu, jangan harap aku melupa

(Mengenang Jumpa September)

Kaka Cahea : Nuansa kuning menghangatkan mendukung suasana kekeluargaan yang masih canggung.
Candaan tertahan walaupun dipaksa lepas.
Satu, dua, tiga kata tampil dengan diri sendiri.
Bingung, menanti kelahiran sang penaung.
Panik, saat terdengar tangis terpekik.
Lalu tersenyum saat semua kelar.
Dan menunggu menanti dan membuat pergerakan, tumbuh.
Aku yang tidak pernah nyaman dikeramaian, tak pernah merasa aman di kerumunan tertahan oleh tawa sesenggukan.
Lalu aku pertaruhkan semua, atas dasar rasa nyaman, aman dan kekeluargaan
Tidak ada yang menghalangi, hanya beberapa anjing menggonggong basi.
Tidak pernah kusesali bahkan jikalau akan ada kesempatan akan kuulangi, barang seribu kali.
Bukan untuk hal yang sama.
Karena memang tidak mungkin sama.
Aku adalah bagian dari kata bicara, dan aku bangga!
Dengan tidak minta dinomer satukan tapi jangan dilupakan.
Selamat ulang tahun kaca, kalian, kita, aku!

Andisa Rizki : Selamat Malam Kata Bicara

Ini ceritaku untuk kaca.
Mungkin jarak dan waktu yang memisahkan kita membuat aku hanya bisa melihat kalian berkarya lewat social media kalian aja ~

Kesibukan yang melandaku, Terkadang membuatku lupa akan kewajibanku untuk berkarya *SatuHariSatuKarya

Waktu semakin larut malam tepat menunjukan pukul 00.00 aku baru merasakan bebas di ruang tidur terlepas dari segala deadline tugas yang menghampiriku.

Aku cukup bertrimakasih kepada kurang lebih 62 Members kaca yang Selalu mau berbagi ilmu kepada ku, Saling mendukung dan yaa seperti kaya udah pernah ketemu hehehe^^

Dann Ga krasa Usia kaca sudah 1Tahun berjalan, SELAMAT ULANG TAHUN KACA YANG KE SATU TAHUN. TERUS BERKARYA , SEGERA MAKIN MEMPERLUAS JARINGAN, KELUAR DARI ZONA AMAN RAIH MEMBER BUAT KARYA !!! hihihi

Selamat ulang tahun KACA.

Akbar Daffa : Jarak hanya masalah waktu,yang penting bagaimana kita menyiasati Rindu, satu tahun yang lalu,gerimis, membasahi jalanan,kehangatan di cangkir-cangkir mulai mengudara, tapi tidak dengan Kata Bicara, yang baru lahir sore itu,dengan roti tart berbentuk segitiga dan ada lilin-lilin diatasnya. Kata Bicara lahir di lembayung senja, dengan bumi yang basah,udara yang dingin tetapi suasana hangat,Maka Kata Bicara lahir dilingkup kehangatan.
Sekalipun aku dulu tak mengenal dirimu,
sekarang aku,kamu dan kalian adalah pengisi hariku.
Kertas,Pena,Kotak suara,telinga,dan hal-hal yang gila menjadi bara untuk kita, menjadi susu untuk Kata Bicara yang berumur satu ini,untuk menjadi lebih maju.
Kaca?
Kata Bicara.


Rizqia Fatwa : Aku menulis tentang kenangan yang kita buat bersama-sama. Libur panjang tahun lalu, aku ingat betul. Sore hari bersama kawan lama, mengendarai motor ke pinggir kota. Menemui wajah-wajah yang tak kukenal semuanya. Membawa senyumku seadanya, aku dan kalian saling bertukar sapa.

Aku sempat asing dan linglung. Ada tawa yang entah milik siapa, gadis yang cemas karena hari mulai petang, senyum malu-malu dari cinta yang baru saja merekah, surat kaleng yang ketahuan siapa pengirimnya, cinta lama atau bahkan yang belum usai.

Dan sekarang, aku suka semuanya. Kecuali asap rokoknya.

Nindyo Aji : Beberapa minggu setelah kaca lahir, aku datang ke acara malam kaca yang pertama atau malah yang kedua? Entah aku tidak begitu ingat. Datang sebagai orang asing dengan wajah datar seperti biasa. Ditemani dengan gerimis manja yang membasahi separuh celana jeans dan jaketku.

Awal pertemuan yang tidak kulupakan, yaa, membaca puisi untuk pertama kalinya sebagai 'tamu' di depan teman-teman anggota kata bicara, meskipun dengan gugup hahaha.

Dan pengalaman lain yang tak terlupakan, Imaginary Land tentunya! Latihan keras berhari-hari demi hasil yang terbaik dan memuaskan, ini menjadi sebuah acara yang membuatku berani tampil di depan umum, ditonton banyak orang hehehe

Aku rindu kalian, aku rindu jargon kaca, aku rindu saat berkumpul, canda tawa, semuanya...

Selamat ulang tahun Kata Bicara, semoga bisa lebih baik kedepannya. :)

#SatutahunKataBicara

- Terima kasih teman-teman semua yang telah mengucapkan Ulang Tahun Kata Bicara yang pertama.
Terimakasih telah mengikuti official line kami. Semoga kedepannya kami sanggup memberikan apa yang harusnya didapatkan remaja saat ini.
Untuk kritik, saran, dan segala bentuk masukan bisa kirimkan ke e-mail kami di komunitaskatabicara@gmail.com

Salam rasa, karya, dan sastra!



KACA?!